4 tahun menetap di Bandung baru kali ini nympetin main ke Floating Market dan Curug Cimahi, Lembang. Bukan tanpa sebab sih, selama ini niatan untuk 'hang out' itu selalu ada. Cuman ada saja batasan-batasannya, dari ngga ada transportasi lah, ngga ada duit lah, ngga ada cewe lah, belum punya mertua lah, ngga dibolehin tetangga lah, bla bla. Kalau untuk sekarang, hambatan terbesar itu 'waktu'. Bahkan, gara-gara 'TIME' ini gue harus rela disindir dosen karena hobi banget telat ngumpulin tugas..
''Maaf pa, telat ngumpulin''
''Oh iya, kenapa telat'' jawab dosen
''Sibuk pa''
''Sesibuk apa sih sampe ngga sempet ngerjain tugas?'' dosen mulai kepoo, udah kaya cewe yang lagi PMS nanyain cowoknya ''Sesibuk apa sih sampe kamu ngga ada waktu buat ngabarin aku, aku tuh ngga bisa diginiin. Kita putus!'' Jreeeeeenngggg, padahal sejam sebelumnya chat via whatshap sayang-sayang-an >.<
''Ngga bisa dijelasin pak''
''Ok, sehari-hari kamu sibuk ngapain saja?'' tingkat kepo dosen bertambah
''Kerja pak''
''Heloooooo, bapak juga sibuk kaliiii..'' dosen murka
''Ngga cuman ngajar, bapa juga ngurusin cafe, sanak istri, bla bla bla. Sibukan mana coba'' Sungut-sungut dosen bersemangat >.<
''Semua manusia pada dasarnya sibuk, tinggal bagaimana dia mengatur'' muka dosen berubah dan bertransformasi menjadi Mario Teguh
Eeeea, prolog sebentar lanjutin cerita diawal tadi. Awalnya kita berempat (gue sendiri, Madi, Leli, dan Galang ; teman SMP) janjian akan menggunakan hari Jumat nan agung ini untuk jalan bareng. Kita bertiga fix jomblo murni tanpa subsidi dan campuran, sedang Galang masih galau dengan ketidak pastian; dengan hubungan yang sekarang sedang dijalankan..
Madi dan Leli rela jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk bertemu kita? Huwooo, awesome. Wkwkwk.. :v
Engga lah, mereka datang dengan niat dan tujuan terselubung :3. Selepas jumatan di Masjid Agung, kita techmeet sebentar di emperan toko, ditemani rintik-rintik hujan merumuskan tujuan 'mau kemana kita?'. (Sebelumnya kita memang sudah janjian via BBM'an, bakal ketemuan di Majid Agung..)
Fix, Leli dan Madi pengen banget ke waterfall 'Curug Cimahi' yang dijadiin DP akun BBM Galang, gue mah ngikut. Tanpa basa-basi, ba-bi-bu, a-i-u, aku sayang kamu, kita langsung berangkat menuju TKP. Untung ada Galang, bisa jadi tour guide dadakan :v. Kita langsung mengarah menuju Lembang, kalau dari Setiabudi setelah UPI kita ambil jalan ke arah Kol. Masturi. Ikuti saja, jalannya hanya bisa dilalui dua mobil. Jadi harus hati-hati ketika mau menyalip, ditambah jalanan cukup licin karena gerimis tadi. Ikuti terus jalan tadi, sampai di perempatan kita cari jalan yang menuju ke arah Parongpong atau kalau ngga mau susah-susah tinggal nanya ke abang-abang pengemudi angkot letak curug cimahi di sebelah mana gitu..
Lokasi curug cimahi ini sebenarnya mudah sekali dijumpai, karena tepat berada di sisi jalan. Patokannya, kalau kita udah ketemu UNAI (Universitas Advent Indonesia) ya berarti udah dekat. Curug Cimahi juga berdekatan dengan Bumi Perkemahan Ciwangun 'CIC'. Gimana nih kalau kita naik transportasi umum? Hmm, perkiraan nih ya sekedar perkiraan, kita bisa naik angkot yang menuju ke Parongpong. Pokona mah tanyain aja, angkot yang mau ke Parongpong gitu. Soalnya pas kemarin ke situ sudah cukup sore jadi ga terlalu tau angkutan apa saja yang bisa lewat. Tapi hati saya meyakinkan, kalau via angkutan umum itu ada.. Yaeellaaahhhh
Pas nyampe, kita cuman dipungut biaya masuk 15rb. Kalau kamu yang merasa sebagai wisatawan asing (asing ; datang dari negeri antah berantah) cukup membayar 25rb. Belum termasuk ongkir (ongkos parkir), tapi murah ding kasih aja 2rb juga gapapa 'kebiasaan parkir di pasbar bayar segitu'. Setelah bayar, kamu bisa langsung masuk. Nah, saya sarankan sebelum masuk mending beli jajanan dulu atau bawa perbekalan, yah minimal bawa air yang cukup. Jangan sampe nyesel meluangkan pemandangan nan indah tanpa kacang ga*uda :v. Engga sih, soalnya kita bakal menaik-turuni anak tangga. Omat, anak tangga lain anak tetangga :3. Ngga kira-kira, kita bakal melewati 587 anak tangga, kalau bolak balik berarti ada 1174 anak tangga. Wow wow wow..
Makanya, ngga direkomendasikan bagi ibu hamil ataupun lansia. Anak-anak juga paling bisa digendong, jangan dibiarkan jalan sendiri. Berbahaya, bisi salah manggil mamah.. :v
Ada tiga peristirahatan sebelum sampai air terjun. Dua peristirahatan dalam bentuk panggung luas yang langsung menghadap air terjun dan mampu menampung 25 orang, dan 16 orang. Spot ini paling banyak dikunjungi, karena bisa buat foto-foto, makanya wajar kalau harus gantian. Sedang satu peristirhatan berbentuk pondok kecil biasa. Disarankan juga memakai jaket, bagi yang ngga kuat dingin. Jangan pula memakai sepatu yang terbuat karet, semakin menurun tangga semakin licin. Hati-hati perlu, jaga hati juga perlu. Yang bawa gandengan, jangan sampe gandengannya melototin gandengan orang lain. Yang jomblo juga harus sadar diri jangan kebawa kenangan mantan. Dikit-dikit baper, kan susah. Suuuusaaaahhhh....
Kita berempat ngga terlalu lama di area air terjun, dingin boooo.. Cari spot, update posisi, pasang gaya, foto, selesai dan bubar jalan. Salah satu tujuan ke Curug Cimahi kan, foto-foto terus dipamerin ke media sosial.. :v
Di area air terjun terdapat beberapa fasilitas, diantaranya tempat ibadah, toilet dan pedagang. Jadi, bagi kamu-kamu yang udah nahan-nahan kebelet selama di tengah perjalanan menuruni tangga silahkan salurkan hasrat membuang hajat di toilet, jangan malu-maluin lahh kencing di kali atau di pepohonan. Kamu ngga mau kan, pas kencing di pepohonan ke-gap sama satpol PP atau polantas yang diem-diem lagi ngadain razia? Teng tong teng tong, cerita macam apa ini.. -_-
120 menit di Curug Cimahi, 80 menit diantaranya dihabiskan buat naik turuni tangga. Wow wow wow.. Jam 5 dari curug cimahi, kendaraan langsung diarahkan menuju ke Floating Market. Sekitar satu jam-an perjalanan dari curug cimahi ke floating market. Memang ada benarnya jika polantas di Bandung itu ngambek setiap weekend datang. di Jakarta mah, macet kenal waktu, selain weekday, polantas bisa istirahat tenang dan melintasi jalan tanpa kemacetan. Nah, di Bandung? Huaaaaa, weekday jalanan macet gara-gara plat D memenuhi jalan. Pas weekend, plat B yang merajai jalanan.. Huoooooo... Macet di Jakarta dialihkan ke Bandung? :(
Nyampe di Floating Market, kita kena retribusi uang masuk sebesar 20rb dan ini bisa ditukarkan segelas milo atau nescafe hangat. Tarif parkir sedikit agak mahal, untuk motor 5rb, sedang bagi yang membawa mobil dikenai 10rb. Semuanya tadi dibayar pake rupiah ya, inget rupiah da lain dollar.. :3
Kita sampe pas maghriban, setelah parkir dan lain-lain kita langsung beli koin. Kesan pertama masuk, sepintas hampir kaya pemancingan.. Huaaaa, gue sama galang berbisik-bisik ''Ud, lamon kaya kie tah Prapag gen ana ya. Huh.. (Ud 'nama kecil galang', kalau kaya gini mah di Prapag 'kampung halaman tercinta' juga ada ya. Huh..)''. Galang mengangguk dan mengamini. Dari kata dasarnya saja sudah jelas, 'Floating = Terapung' 'Market = Pasar'. Ya ya ya, pasar terapung. Ini nih yang membedakan dengan tempat pemancingan.. :v
Para penjual menyajikan dagangannya dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Jajanan yang dijual apa saja? Kebanyakan jajanan seperti yang dijual di pasar-pasar tradisional. Then, di floating market ini kita ngga bisa langsung membeli dengan uang kertas. Uang kita harus ditukarkan dengan koin, nah koin ini nilainya setara dengan uang yang kita tukarkan tadi. Berbeda bukan..?
Wajar juga jika harga jajanan semisal colenak, rujak, es kelapa disini sedikit 'mahal' dibanding dengan jajanan serupa yang dijual di pasar yang berbeda. Terkadang tempat dan teknik penjualan yang disajikan itu mempengaruhi harga..
Hujan ternyata semakin besar, mau ngga mau keinginan untuk segera pergi langsung hilang. Mampir dan sekedar ngobrol ditemani segelas nescafe hangat. Jam 8 atau waktu tutupnya, memaksa kita untuk segera pergi, suasana ramai berganti sepi. ''Jakarta ramai hatiku sepi, jangan kau tanya kenapa sedih.. Lalala..'' 'Jakarta Ramai dipersembahkan oleh Maudy Ayunda..'
Para pedagang terlihat sedang membereskan sisa dagangan, para petugas kebersihan juga sedang membersihkan meja-meja. Hanya menyisakan meja kami berempat. Dengan berat hati, kami harus pergiii. Setelah beres-beres dan mengecek bawaan tidak ada yang tertinggal, kita langsung pergi. Gerbang depan-pun, hampir mau tutup. Berangkat hujan-pulang juga hujan. 'Hujan yang rintik-rintik, diawal bulan itu menambah nikmatnya malam ini..' 'The Rain-Sepanjang Jalan Kenangan'
Dari Lembang jam 8, sampe Cihampeulas jam 9. Kita mampir dulu di rumah Galang di daerah Sukamiskin, jam menunjuk ke angka 21.30. Pas ngecek hape, ada 27 panggilan tak terjawab 'Emake'. Langsung gue telpon balik, dan mengabarkan sebentar lagi pulang. Suara kesal dan marah ibu bersatu, huaaaaa emang sih kebiasaan kalau anaknya ditelpon ngga dijawab-jawab pasti bawaan orang tua bingung dan marah-marah..
Gue cuma mampir sebentar dan langsung pamit, pukul 22.10 gue baru nyampe depan komplek. Sial bin apes, gerbang depan sudah ditutup. Antara mau nggak mau, gue harus muter lewat gerbang samping, alhamdulillah 22.20 pas nyampe rumah. Ibu terbangun dengan muka sedikit marah dan langsung tidur lagi. Gue ngerasa nggak enak sambil menahan lapar, daritadi belum makan :( . Ada benar sebuah pepatah yang mengatakan, Ibu tak akan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan apa-pun. Mungkin berlaku juga bagi ibu gue, semarah-marahnya dia tetap akan menyisakan makanan terbaik bagi anak-nya ketika pulang malam. Gue tahu, mungkin tadi ibu berharap bisa makan bareng anak-nya sambil anak-nya cerita perjalanan siang tadi gimana, sama siapa saja, dimana, dan mungkin kapan bisa ibu diajak bersama.. Huuuooooo :-D
''Maaf pa, telat ngumpulin''
''Oh iya, kenapa telat'' jawab dosen
''Sibuk pa''
''Sesibuk apa sih sampe ngga sempet ngerjain tugas?'' dosen mulai kepoo, udah kaya cewe yang lagi PMS nanyain cowoknya ''Sesibuk apa sih sampe kamu ngga ada waktu buat ngabarin aku, aku tuh ngga bisa diginiin. Kita putus!'' Jreeeeeenngggg, padahal sejam sebelumnya chat via whatshap sayang-sayang-an >.<
''Ngga bisa dijelasin pak''
''Ok, sehari-hari kamu sibuk ngapain saja?'' tingkat kepo dosen bertambah
''Kerja pak''
''Heloooooo, bapak juga sibuk kaliiii..'' dosen murka
''Ngga cuman ngajar, bapa juga ngurusin cafe, sanak istri, bla bla bla. Sibukan mana coba'' Sungut-sungut dosen bersemangat >.<
''Semua manusia pada dasarnya sibuk, tinggal bagaimana dia mengatur'' muka dosen berubah dan bertransformasi menjadi Mario Teguh
Eeeea, prolog sebentar lanjutin cerita diawal tadi. Awalnya kita berempat (gue sendiri, Madi, Leli, dan Galang ; teman SMP) janjian akan menggunakan hari Jumat nan agung ini untuk jalan bareng. Kita bertiga fix jomblo murni tanpa subsidi dan campuran, sedang Galang masih galau dengan ketidak pastian; dengan hubungan yang sekarang sedang dijalankan..
Madi dan Leli rela jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk bertemu kita? Huwooo, awesome. Wkwkwk.. :v
Engga lah, mereka datang dengan niat dan tujuan terselubung :3. Selepas jumatan di Masjid Agung, kita techmeet sebentar di emperan toko, ditemani rintik-rintik hujan merumuskan tujuan 'mau kemana kita?'. (Sebelumnya kita memang sudah janjian via BBM'an, bakal ketemuan di Majid Agung..)
Fix, Leli dan Madi pengen banget ke waterfall 'Curug Cimahi' yang dijadiin DP akun BBM Galang, gue mah ngikut. Tanpa basa-basi, ba-bi-bu, a-i-u, aku sayang kamu, kita langsung berangkat menuju TKP. Untung ada Galang, bisa jadi tour guide dadakan :v. Kita langsung mengarah menuju Lembang, kalau dari Setiabudi setelah UPI kita ambil jalan ke arah Kol. Masturi. Ikuti saja, jalannya hanya bisa dilalui dua mobil. Jadi harus hati-hati ketika mau menyalip, ditambah jalanan cukup licin karena gerimis tadi. Ikuti terus jalan tadi, sampai di perempatan kita cari jalan yang menuju ke arah Parongpong atau kalau ngga mau susah-susah tinggal nanya ke abang-abang pengemudi angkot letak curug cimahi di sebelah mana gitu..
Lokasi curug cimahi ini sebenarnya mudah sekali dijumpai, karena tepat berada di sisi jalan. Patokannya, kalau kita udah ketemu UNAI (Universitas Advent Indonesia) ya berarti udah dekat. Curug Cimahi juga berdekatan dengan Bumi Perkemahan Ciwangun 'CIC'. Gimana nih kalau kita naik transportasi umum? Hmm, perkiraan nih ya sekedar perkiraan, kita bisa naik angkot yang menuju ke Parongpong. Pokona mah tanyain aja, angkot yang mau ke Parongpong gitu. Soalnya pas kemarin ke situ sudah cukup sore jadi ga terlalu tau angkutan apa saja yang bisa lewat. Tapi hati saya meyakinkan, kalau via angkutan umum itu ada.. Yaeellaaahhhh
Pas nyampe, kita cuman dipungut biaya masuk 15rb. Kalau kamu yang merasa sebagai wisatawan asing (asing ; datang dari negeri antah berantah) cukup membayar 25rb. Belum termasuk ongkir (ongkos parkir), tapi murah ding kasih aja 2rb juga gapapa 'kebiasaan parkir di pasbar bayar segitu'. Setelah bayar, kamu bisa langsung masuk. Nah, saya sarankan sebelum masuk mending beli jajanan dulu atau bawa perbekalan, yah minimal bawa air yang cukup. Jangan sampe nyesel meluangkan pemandangan nan indah tanpa kacang ga*uda :v. Engga sih, soalnya kita bakal menaik-turuni anak tangga. Omat, anak tangga lain anak tetangga :3. Ngga kira-kira, kita bakal melewati 587 anak tangga, kalau bolak balik berarti ada 1174 anak tangga. Wow wow wow..
Makanya, ngga direkomendasikan bagi ibu hamil ataupun lansia. Anak-anak juga paling bisa digendong, jangan dibiarkan jalan sendiri. Berbahaya, bisi salah manggil mamah.. :v
Ada tiga peristirahatan sebelum sampai air terjun. Dua peristirahatan dalam bentuk panggung luas yang langsung menghadap air terjun dan mampu menampung 25 orang, dan 16 orang. Spot ini paling banyak dikunjungi, karena bisa buat foto-foto, makanya wajar kalau harus gantian. Sedang satu peristirhatan berbentuk pondok kecil biasa. Disarankan juga memakai jaket, bagi yang ngga kuat dingin. Jangan pula memakai sepatu yang terbuat karet, semakin menurun tangga semakin licin. Hati-hati perlu, jaga hati juga perlu. Yang bawa gandengan, jangan sampe gandengannya melototin gandengan orang lain. Yang jomblo juga harus sadar diri jangan kebawa kenangan mantan. Dikit-dikit baper, kan susah. Suuuusaaaahhhh....
Kita berempat ngga terlalu lama di area air terjun, dingin boooo.. Cari spot, update posisi, pasang gaya, foto, selesai dan bubar jalan. Salah satu tujuan ke Curug Cimahi kan, foto-foto terus dipamerin ke media sosial.. :v
Di area air terjun terdapat beberapa fasilitas, diantaranya tempat ibadah, toilet dan pedagang. Jadi, bagi kamu-kamu yang udah nahan-nahan kebelet selama di tengah perjalanan menuruni tangga silahkan salurkan hasrat membuang hajat di toilet, jangan malu-maluin lahh kencing di kali atau di pepohonan. Kamu ngga mau kan, pas kencing di pepohonan ke-gap sama satpol PP atau polantas yang diem-diem lagi ngadain razia? Teng tong teng tong, cerita macam apa ini.. -_-
120 menit di Curug Cimahi, 80 menit diantaranya dihabiskan buat naik turuni tangga. Wow wow wow.. Jam 5 dari curug cimahi, kendaraan langsung diarahkan menuju ke Floating Market. Sekitar satu jam-an perjalanan dari curug cimahi ke floating market. Memang ada benarnya jika polantas di Bandung itu ngambek setiap weekend datang. di Jakarta mah, macet kenal waktu, selain weekday, polantas bisa istirahat tenang dan melintasi jalan tanpa kemacetan. Nah, di Bandung? Huaaaaa, weekday jalanan macet gara-gara plat D memenuhi jalan. Pas weekend, plat B yang merajai jalanan.. Huoooooo... Macet di Jakarta dialihkan ke Bandung? :(
Nyampe di Floating Market, kita kena retribusi uang masuk sebesar 20rb dan ini bisa ditukarkan segelas milo atau nescafe hangat. Tarif parkir sedikit agak mahal, untuk motor 5rb, sedang bagi yang membawa mobil dikenai 10rb. Semuanya tadi dibayar pake rupiah ya, inget rupiah da lain dollar.. :3
Kita sampe pas maghriban, setelah parkir dan lain-lain kita langsung beli koin. Kesan pertama masuk, sepintas hampir kaya pemancingan.. Huaaaa, gue sama galang berbisik-bisik ''Ud, lamon kaya kie tah Prapag gen ana ya. Huh.. (Ud 'nama kecil galang', kalau kaya gini mah di Prapag 'kampung halaman tercinta' juga ada ya. Huh..)''. Galang mengangguk dan mengamini. Dari kata dasarnya saja sudah jelas, 'Floating = Terapung' 'Market = Pasar'. Ya ya ya, pasar terapung. Ini nih yang membedakan dengan tempat pemancingan.. :v
Para penjual menyajikan dagangannya dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Jajanan yang dijual apa saja? Kebanyakan jajanan seperti yang dijual di pasar-pasar tradisional. Then, di floating market ini kita ngga bisa langsung membeli dengan uang kertas. Uang kita harus ditukarkan dengan koin, nah koin ini nilainya setara dengan uang yang kita tukarkan tadi. Berbeda bukan..?
Wajar juga jika harga jajanan semisal colenak, rujak, es kelapa disini sedikit 'mahal' dibanding dengan jajanan serupa yang dijual di pasar yang berbeda. Terkadang tempat dan teknik penjualan yang disajikan itu mempengaruhi harga..
Hujan ternyata semakin besar, mau ngga mau keinginan untuk segera pergi langsung hilang. Mampir dan sekedar ngobrol ditemani segelas nescafe hangat. Jam 8 atau waktu tutupnya, memaksa kita untuk segera pergi, suasana ramai berganti sepi. ''Jakarta ramai hatiku sepi, jangan kau tanya kenapa sedih.. Lalala..'' 'Jakarta Ramai dipersembahkan oleh Maudy Ayunda..'
Para pedagang terlihat sedang membereskan sisa dagangan, para petugas kebersihan juga sedang membersihkan meja-meja. Hanya menyisakan meja kami berempat. Dengan berat hati, kami harus pergiii. Setelah beres-beres dan mengecek bawaan tidak ada yang tertinggal, kita langsung pergi. Gerbang depan-pun, hampir mau tutup. Berangkat hujan-pulang juga hujan. 'Hujan yang rintik-rintik, diawal bulan itu menambah nikmatnya malam ini..' 'The Rain-Sepanjang Jalan Kenangan'
Dari Lembang jam 8, sampe Cihampeulas jam 9. Kita mampir dulu di rumah Galang di daerah Sukamiskin, jam menunjuk ke angka 21.30. Pas ngecek hape, ada 27 panggilan tak terjawab 'Emake'. Langsung gue telpon balik, dan mengabarkan sebentar lagi pulang. Suara kesal dan marah ibu bersatu, huaaaaa emang sih kebiasaan kalau anaknya ditelpon ngga dijawab-jawab pasti bawaan orang tua bingung dan marah-marah..
Gue cuma mampir sebentar dan langsung pamit, pukul 22.10 gue baru nyampe depan komplek. Sial bin apes, gerbang depan sudah ditutup. Antara mau nggak mau, gue harus muter lewat gerbang samping, alhamdulillah 22.20 pas nyampe rumah. Ibu terbangun dengan muka sedikit marah dan langsung tidur lagi. Gue ngerasa nggak enak sambil menahan lapar, daritadi belum makan :( . Ada benar sebuah pepatah yang mengatakan, Ibu tak akan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan apa-pun. Mungkin berlaku juga bagi ibu gue, semarah-marahnya dia tetap akan menyisakan makanan terbaik bagi anak-nya ketika pulang malam. Gue tahu, mungkin tadi ibu berharap bisa makan bareng anak-nya sambil anak-nya cerita perjalanan siang tadi gimana, sama siapa saja, dimana, dan mungkin kapan bisa ibu diajak bersama.. Huuuooooo :-D



Komentar
Posting Komentar