Alhamdulillah, program magang berhasil dilalui. Banyak suka dan duka dilalui dengan memegang predikat sebagai 'reporter magang'. Ngaku reporter dari suatu media tapi tanpa tanda pengenal.. :v
Saya sendiri magang di salah satu tv lokal di wilayah Cirebon. Kenapa memilih Cirebon? Alasan pertama, lebih deket dengan rumah. Jarak Cirebon - Losari jika dilalui dengan naik angkutan umum hanya memakan waktu satu jam. Kedua, saya fikir biaya hidup di Cirebon masih wajar dan normal dibawah rata-rata Bandung, ehh ternyata tidak.. :v
Hari pertama magang bertepatan dengan awal puasa, 6 Juni 2016. Awalnya, kenapa memilih tv dibanding media cetak ya karena tidak mau jadi reporter lapangan, Haha.. Tapi nasib berkata lain, setelah basa-basi dan ngobrol sebentar dengan pemimpin redaksi, malah saya ditempatkan bener-bener untuk terjun ke lapangan ditambah beban yang saya pegang bagian rubrik hukum dan kriminal. Random banget.. :v
Hari itu pula saya langsung ditugaskan mencari berita atau info kriminal di mapolres Cirebon Kota. Setdah, udah ngerasa kaya Choi Dal Pol aja nih, fikir dalam hati. Bedanya, kalo Choi Dal Pol ditempatkan di Kepolisian Sungai Han, nah kalau saya di Kepolisian Kota Udang :v
Menurut Pemred, saya tidak benar-benar dilepas sendiri tapi bakal ditemani wartawan senior sebagai pemandu. Karena, wartawan senior yang dijanjikan tadi udah pergi meliput makanya saya dianjurkan langsung ke Mapolres. Berhubung, buta arah jalan maka diputuskan untuk naik angkot. Masih baru dan amatir, nyampe Mapolres cilang-cileung bingung mau ke bagian apa..
Wartawan senior ternyata belum datang, dihubungi susah nggak ada jawaban. Dua jam kemudian beliau baru datang. Huaaaa.. >.<
Hari pertama sebagai reporter yang masih magang, yang saya ketahui hanya kemampuan melaporkan berita. Udah itu! akhirnya diajarkan pula cara pengambilan gambar, berhubung reporter berita televisi maka porsi yang disajikan adalah 50 gambar/ video - 50 tulisan. Berbeda dengan media cetak, yang lebih mengutamakan pada teknik penulisan urusan gambar itu belakangan..
Hari pertama, walaupun dapat berita tapi gagal ditayangkan karena kualitas video yang cukup jelek. Hari kedua bertekad untuk lebih baik. Namanya juga rubrik kriminal, jadi jangan berharap akan ada berita terus tiap hari. Nah, untuk mensiasatinya walaupun saya dibebankan membawahi rubrik kriminal, namun tetap diperbolehkan untuk meliput informasi lainnya. Menutupi slot hukum jika kosong..
Tugas harian reporter ya setor berita, kalau semisal di media cetak batas pelaporan berita biasanya malam namun berbeda dengan tv. Ditambah, berhubung masih magang jadi belum tentu semua berita yang telah kita liput akan tayang. Nyesek kan, udah panas-panas muterin Cirebon ternyata ngga tayang.. :v
Alhamdulillah, beberapa diantaranya lolos sensor dan layak untuk ditayangkan. Haha.. :-D
Reporter dalam menjalankan aksinya berpedoman pada kode etik yang berlaku, ada tata tertib dan etika yang harus dijaga. Reporter tak lepas dari yang namanya tekanan, baik tekanan dari pemred ataupun tekanan di lapangan..
Akhirnya, setelah panas-panasan, menahan haus dan lapar, menahan mata dari godaan. Setidaknya, dari magang ini saya kembali meyakinkan dan memantapkan hati bahwa jurusan yang saya ambil sudah tepat (untuk saat ini). Sebelumnya memang sempat uring-uringan, kenapa coba kuliah jauh-jauh ke Bandung cuma ngambil Ilmu Komunikasi peminatan Jurnalistik.
Apakah saya kembali salah mengambil jurusan? berkaca pada tahun 2012 lalu yang sempat ngambil Teknik Informatika namun hanya bertahan selama satu semester. Bahkan, di semester tiga kemarin sempat pindah ambil Public Relations atau Humas, namun akhirnya disadarkan ke jalan yang benar.. :-D
di perusahaan yang saya jajaki, sebagian besar reporter kebanyakan bukan lulusan jurnalistik. Entah kenapa, posisi yang seharusnya diisi oleh sarjana komunikasi malah diisi sarjana ekonomi, pendidikan, bahkan ada sarjana kelautan. Setelah ditanya, kebanyakan mereka menjawab menyukai profesi ini karena penuh tantangan..
Reporter tidak harus melulu lulusan ilmu jurnalistik. Yang dibutuhkan dari seorang reporter, ia harus melek informasi, mempunyai pandangan terbuka, dan harus bisa bersikap kritis, juga bijaksana.. Wkwk :v
Dalam aktivitas peliputan, saya harus berhubungan dan bertemu dengan banyak orang. Faktor komunikastif hal wajib yang harus dimiliki. Keluwesan menjalin komunikasi dengan narasumber demi informasi yang dibutuhkan dan dengan sesama wartawan sebagai partner liputan. Kadang dari sesama wartawan juga saya mendapatkan informasi penting yang mungkin belum saya dapatkan..
Berhubung masih newbie, saya sering sungkan dan canggung untuk say hello pada wartawan lain. Jadilah sering bengong sendiri. Seorang reporter harus bisa mengatur waktu sebaik mungkin, pagi liputan bisa saja malam hari juga harus liputan. Beberapa teman yang sama ngambil jurusan ini juga mengeluhkan jam kerja yang tak pasti, dari keluarga juga.. :v
Namun pada akhirnya, bersyukur bisa dapet banyak pengalaman berharga. Belajar banyak hal baru, suasana baru dan bisa mengaplikasikan dari teori. Terima kasih semua yang telah berpartisipasi, membantu dan terus mendoakan.. :-D
Saya sendiri magang di salah satu tv lokal di wilayah Cirebon. Kenapa memilih Cirebon? Alasan pertama, lebih deket dengan rumah. Jarak Cirebon - Losari jika dilalui dengan naik angkutan umum hanya memakan waktu satu jam. Kedua, saya fikir biaya hidup di Cirebon masih wajar dan normal dibawah rata-rata Bandung, ehh ternyata tidak.. :v
Hari pertama magang bertepatan dengan awal puasa, 6 Juni 2016. Awalnya, kenapa memilih tv dibanding media cetak ya karena tidak mau jadi reporter lapangan, Haha.. Tapi nasib berkata lain, setelah basa-basi dan ngobrol sebentar dengan pemimpin redaksi, malah saya ditempatkan bener-bener untuk terjun ke lapangan ditambah beban yang saya pegang bagian rubrik hukum dan kriminal. Random banget.. :v
Hari itu pula saya langsung ditugaskan mencari berita atau info kriminal di mapolres Cirebon Kota. Setdah, udah ngerasa kaya Choi Dal Pol aja nih, fikir dalam hati. Bedanya, kalo Choi Dal Pol ditempatkan di Kepolisian Sungai Han, nah kalau saya di Kepolisian Kota Udang :v
Menurut Pemred, saya tidak benar-benar dilepas sendiri tapi bakal ditemani wartawan senior sebagai pemandu. Karena, wartawan senior yang dijanjikan tadi udah pergi meliput makanya saya dianjurkan langsung ke Mapolres. Berhubung, buta arah jalan maka diputuskan untuk naik angkot. Masih baru dan amatir, nyampe Mapolres cilang-cileung bingung mau ke bagian apa..
Wartawan senior ternyata belum datang, dihubungi susah nggak ada jawaban. Dua jam kemudian beliau baru datang. Huaaaa.. >.<
Hari pertama sebagai reporter yang masih magang, yang saya ketahui hanya kemampuan melaporkan berita. Udah itu! akhirnya diajarkan pula cara pengambilan gambar, berhubung reporter berita televisi maka porsi yang disajikan adalah 50 gambar/ video - 50 tulisan. Berbeda dengan media cetak, yang lebih mengutamakan pada teknik penulisan urusan gambar itu belakangan..
Hari pertama, walaupun dapat berita tapi gagal ditayangkan karena kualitas video yang cukup jelek. Hari kedua bertekad untuk lebih baik. Namanya juga rubrik kriminal, jadi jangan berharap akan ada berita terus tiap hari. Nah, untuk mensiasatinya walaupun saya dibebankan membawahi rubrik kriminal, namun tetap diperbolehkan untuk meliput informasi lainnya. Menutupi slot hukum jika kosong..
Tugas harian reporter ya setor berita, kalau semisal di media cetak batas pelaporan berita biasanya malam namun berbeda dengan tv. Ditambah, berhubung masih magang jadi belum tentu semua berita yang telah kita liput akan tayang. Nyesek kan, udah panas-panas muterin Cirebon ternyata ngga tayang.. :v
Alhamdulillah, beberapa diantaranya lolos sensor dan layak untuk ditayangkan. Haha.. :-D
Reporter dalam menjalankan aksinya berpedoman pada kode etik yang berlaku, ada tata tertib dan etika yang harus dijaga. Reporter tak lepas dari yang namanya tekanan, baik tekanan dari pemred ataupun tekanan di lapangan..
Akhirnya, setelah panas-panasan, menahan haus dan lapar, menahan mata dari godaan. Setidaknya, dari magang ini saya kembali meyakinkan dan memantapkan hati bahwa jurusan yang saya ambil sudah tepat (untuk saat ini). Sebelumnya memang sempat uring-uringan, kenapa coba kuliah jauh-jauh ke Bandung cuma ngambil Ilmu Komunikasi peminatan Jurnalistik.
Apakah saya kembali salah mengambil jurusan? berkaca pada tahun 2012 lalu yang sempat ngambil Teknik Informatika namun hanya bertahan selama satu semester. Bahkan, di semester tiga kemarin sempat pindah ambil Public Relations atau Humas, namun akhirnya disadarkan ke jalan yang benar.. :-D
di perusahaan yang saya jajaki, sebagian besar reporter kebanyakan bukan lulusan jurnalistik. Entah kenapa, posisi yang seharusnya diisi oleh sarjana komunikasi malah diisi sarjana ekonomi, pendidikan, bahkan ada sarjana kelautan. Setelah ditanya, kebanyakan mereka menjawab menyukai profesi ini karena penuh tantangan..
Reporter tidak harus melulu lulusan ilmu jurnalistik. Yang dibutuhkan dari seorang reporter, ia harus melek informasi, mempunyai pandangan terbuka, dan harus bisa bersikap kritis, juga bijaksana.. Wkwk :v
Dalam aktivitas peliputan, saya harus berhubungan dan bertemu dengan banyak orang. Faktor komunikastif hal wajib yang harus dimiliki. Keluwesan menjalin komunikasi dengan narasumber demi informasi yang dibutuhkan dan dengan sesama wartawan sebagai partner liputan. Kadang dari sesama wartawan juga saya mendapatkan informasi penting yang mungkin belum saya dapatkan..
Berhubung masih newbie, saya sering sungkan dan canggung untuk say hello pada wartawan lain. Jadilah sering bengong sendiri. Seorang reporter harus bisa mengatur waktu sebaik mungkin, pagi liputan bisa saja malam hari juga harus liputan. Beberapa teman yang sama ngambil jurusan ini juga mengeluhkan jam kerja yang tak pasti, dari keluarga juga.. :v
Namun pada akhirnya, bersyukur bisa dapet banyak pengalaman berharga. Belajar banyak hal baru, suasana baru dan bisa mengaplikasikan dari teori. Terima kasih semua yang telah berpartisipasi, membantu dan terus mendoakan.. :-D
bagus to..
BalasHapuslanjutkan!
Hapus