Langsung ke konten utama

Belajar Agama: Yakin, Sudah Sepenuh Hati Percaya Tuhan?



Duh baru sempat nulis lagi, di sela-sela kerjaan. Dari beberapa tumpukan buku hadiah dari pak Mubaligh ada salah satu buku yang menarik untuk ane baca di bulan Ramadhan. Isinya ngena banget, apalagi akhir-akhir ini gonjang-ganjing tentang agama 'Warisan'. Hehe

Nah judul bukunya Filsafat Ajaran Islam, kumpulan makalah Mirza Ghulam Ahmad, yang ditujukan pada Konferensi Agama-agama di India.  Ada beberapa poin sih, tapi yang paling ane seneng baca pas poin pertama tentang hakikat manusia, dan keyakinan. Berikut sedikit ane share..

Seperti banyak kita ketahui bahwa Allah SWT meniupkan ruh ke dalam jiwa tiap-tiap manusia di umur kehamilan ke empat bulan, atau pada usia pertengahan keberadaannya dalam rahim, janin terus berkembang sebelum terlahir menjadi manusia yang utuh. Hukum  alam  menyebutkan, bahwa   sama  seperti  sebuah  janin yang menghabiskan separuh rentang masa keberadaannya di dalam kandungan,  lalu  mulai  menunjukkan  tanda-tanda  gerak  dan  kehidupan.  

Kondisi  serupa juga berlaku dalam kelahiran kehidupan rohani. Masa  terbaik  dari  kehidupan  seseorang,  sebelum  ia  mengalami  pikun, yang mungkin berkisar pada  umur  delapan  puluh  tahun.  Separuhnya adalah  usia  empat  puluh  tahun.  Di  sini  angka  empat  puluh  berhubungan dengan  masa  empat  bulan  pertama  sang  janin  menghabiskan  masa-masa  pertamanya  di  dalam  alam  rahim  sebelum  gerakan  fisik  pertamanya. 

Ayat dalam Al Qur'an  mengatakan bahwa   ketika   manusia   telah menjalani  separuh  dari  masa-masa  produktif  kehidupan, jiwanya  mulai  terbangun  dan menunjukkan tanda-tanda kehidupan rohani yang baru, dengan catatan asalkan saja ia diberkati dengan watak yang murni.

Bukankah bahwa sebelum menginjak usia empat puluh, sebagian besar  kehidupan  seseorang  dikaburkan  oleh  ketidaktahuan.  Masa  tujuh atau   delapan   tahun   pertama manusia  dilewatkan sebagai masa pertumbuhan, dan masa berikutnya yakni pada usia dua puluh lima tahun atau lebih, sebagian besar dihabiskan untuk mengejar pengetahuan atau  dibuang-buang  dalam  kesenangan  yang  tiada  berharga.  Setelah  itu, ia  menikah  atau  sebaliknya  mereka  tertipu  oleh  pengejaran  kekayaan  dan kehormatan dan melewati semua batas dalam melakukan berbagai hal. 

Pada  tahap  ini, bahkan jika manusia mendekatkan diri kepada Tuhan, pencariannya  akan  Tuhan sebagian besar dicemari  oleh  keinginan-keinginan dunia. Doa-doanya  sebagian  besar  ditujukan  untuk  mendapatkan  keberkahan dunia dan  tangisan  serta  doa-doa  permohonannya  dinodai  oleh  hasrat  keduniawian.  Sehingga,  alangkah  kecilnya  keimanan  yang  ia  miliki tentang  akhirat. Mendekat ke Tuhan jika sedang membutuhkan pertolongan, pas ingin kerja, ingin mendapatkan jodoh, ia rajin dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Setelah ia mendapatkan, ia lupa.

Serta,  hal  itu  ditutupi  oleh  kenyataan  bahwa  kematian  nampak hanya  sebagai  sebuah  kemungkinan  yang  masih  jauh, dan bahkan jika diceritakan tentang kematian ia akan berkata, "Tenang, gue masih muda".

Bukankah,  ketika sebuah   bendungan   yang  ‘jebol’,  airnya   akan menghantam   dan   menghancurkan apa  pun  yang  ada  di  jalur  yang  dilaluinya?  Seperti  itu  juga  banjir  yang membahayakan  kehidupan  manusia  dari  nafsu  dunia.  Dalam  keadaan ini,  bagaimana  ia  bisa  percaya  kepada  adanya  hari  akhir yang tidak  terlihat?  Sebaliknya,  ia bahkan malah mengolok-olok  dan  mengejek  agama lalu  memamerkan  logikanya  sendiri  yang  kering  dan  menyesatkan.  

Tentu saja,  seandainya  saja  ia  diberi rahmat, ia  mungkin masih percaya  kepada Tuhan,  akan  tetapi  iman-Nya  tidak  sepenuh  hati  dan  tanpa  ketulusan dan itu juga tergantung pada keberhasilan doa. Jika doa-doanya terpenuhi  maka  ia  berpaling  kepada  Tuhan,  jika  belum,  maka  ia berubah  menjadi  setan.  Menyalahkan Tuhan, ingatkan anda dengan sebuah film ‘Doa Yang Mengancam’?

Bisa dibilang,  masa  muda  adalah  masa  yang kritis dalam kehidupan seseorang dan tanpa rahmat Ilahi seseorang mungkin akan  menggali  tanah  kuburannya  sendiri.  Kenyataannya  adalah  bahwa kehidupan seseorang di masa muda ini adalah akar segala kejahatan. Pada  masa-masa  inilah  seseorang  mulai  mengidap  sebagian  besar  penyakit fisik dan beberapa penyakit lainnya yang tak dapat disebutkan. 

Kesalahan-kesalahan yang dibuat pada masa-masa muda tak berpengalaman ini sering menyebabkan  orang  berpaling  dari  Tuhan  Yang  Sejati  dan  Abadi.  Oleh karena  itu,  pada  masa  usia  inilah rasa manusia  takut  akan  Tuhan bisa dibilang cukup sedikit dan itupun didorong oleh nafsu duniawi dan didominasi oleh ego alami. Ia bahkan tak mengindahkan nasihat  orang  dan kelak menanggung  akibat pada masa sisa hidupnya di kemudian hari.

Ketika    seseorang  mulai  mendekati    usia    empat    puluh    tahun,    ia    mulai menampilkan  tingkah  jiwa  mudanya  dan  secara  menyedihkan  ia  melongok ke belakang (flashback) kepada kebodohannya akan nasihat-nasihat yang tak berhasil membujuknya. Jiwa mudanya yang meluap-luap secara alami sedikit demi sedikit mulai mereda, keadaan  fisiknya  menurun  sejalan  dengan  usianya  yang  terus bertambah.  Darah  pemberontaknya  sudah  tidak  ada  lagi  disana,  tidak  ada pula kekuatan fisik dan jiwa mudanya yang ceroboh. Masa-masa penurunan mendekat dengan cepat.

Pada  tahap  ini,  ia mulai menyaksikan bahwa saudara-saudaranya mulai meninggalkan  dunia  dan  karena  kehilangan,  menyebabkan  ia  didera  oleh kesedihan   yang   mendalam.   Kedua   orang   tuanya   pun   mungkin   sudah tiada  lagi  dan  dunia  mulai  menyingkapkan  kefanaannya  dengan  sejumlah cara.  Demikian  hal  itu  terjadi  seakan-akan  Tuhan  telah  menempatkan dihadapannya  sebuah  cermin  lalu Tuhan berkata,  ‘Lihat,  inilah  kehidupan  yang sebenarnya yang kamu sangat menyukainya itu.’ 

Pada saat itulah kemudian, ia  ingat  akan  kesalahan-kesalahan  masa  lalunya  dengan  penyesalan  dan, jika diberikan hidayah Allah SWT,  ia akan mengalami  perubahan  'radikal'  yang  mengantarkan  kepada  kehidupannya yang  baru. Allah, Yang Maha Kuasa, telah berfirman dalam surah Al Ahqaf ayat 15.

Allah SWT memerintahkan kepada manusia: “Berbuat  baiklah  kepada  orang-tuamu.  Ketahuilah  olehmu  bahwa  betapa beratnya   penderitaan   yang   ibumu   derita   demi   kamu!   Selama   ibumu mengandung  ia  menderita  sakit  dalam  jangka  waktu  yang  lama  dan dengan rasa sakit pula ia melahirkan kamu. Selama tiga puluh bulan ia terus berada dalam ketidaknyamanan baik selama masa kehamilan maupun masa menyusui kamu. 

Lagi, Dia berfirman bahwa ketika seorang yang baik mencapai usia empat puluh tahun dan menginjak dewasa maka ia akan ingat akan peringatan Ilahi dan berkata, “Ya Tuhanku, izinkanlah aku mensyukuri nikmat yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang-tuaku dan anugerahilah aku kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang baik yang dapat membuat Engkau senang, dan jadikanlah anak keturunanku sebagai  orang  yang  shalih  bagiku.  Yakni,  jika  aku  gagal  dalam  tugasku terhadap orang tuaku, maka janganlah hendaknya anak-anakku melakukan hal  yang  sama.  Jika  aku  tersesat  dari  jalan  yang  lurus,  hendaklah  jangan Engkau   biarkan   mereka   mengikutinya.   Ya   tuhanku,   aku   bertobat   dan kembali kepada Engkau dan aku termasuk orang orang yang berserah diri.”

Dengan demikian, Tuhan telah menjelaskan bahwa pada tahun keempat puluh  menjadi  rahmat  bagi  orang-orang  yang  shalih  dan  pada  masa  itulah semangat  kebenaran  bangkit  di  dalam  diri  mereka.  Kebanyakan  dari  para Nabi  utusan  Tuhan  diutus  dalam  usia  mereka  yang  keempat  puluh  tahun. Sebagai  contoh, Panutan  kita,  Nabi  Muhammad SAW-pun diutus  untuk  kebangkitan  umat  manusia  pada  usia  beliau  yang  mrnginjak keempat puluh tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKN, Katanya Kuliah Kerja Nyata

Yuhu posting 2017 pertama.. :D Lama ngga berbagi cerita, entah kenapa malam ini ane keinget pas jaman-jaman KKN 2 bulan yang lalu. Disini, ane bakal sedikit cerita suka duka selama KKN. BTW, KKN di beberapa kampus memang sudah menjadi kewajiban bagi tiap-tiap mahasiswa. Awal ane ikut KKN juga cuman sebagai persyaratan ikut sidang skripsi. Nah gini ceritanya. Kalau biasanya KKN dilakukan secara bersama-sama antar fakultas tetapi beda dengan yang ada di fakultas ane. Hanya khusus satu fakultas saja yang ikut KKN atau diartikan sebagai KKN Mandiri (: bukan nama bank ye). Ada plus minusnya, plusnya kita udah kenal satu sama lain, minusnya ya elu lagi elu lagi. Wkwaw.. :v Tetapi kenal akrab di kampus bukan jaminan bakal akrab juga di desa kita KKN. Nah lho? Baca dulu aja yee :D Nah tahun ini KKN dilaksanakan periode Januari – Februari 2017. Pesertanya mahasiswa 2 angkatan dari 3 jurusan di FIKOM (Jurnalistik, Perpustakaan, dan PR). Pas itu, ane sendiri lagi sibuk-sibuknya dengan ba...

Pengalaman Magang : Merasakan Jadi Wartawan Kriminal

Alhamdulillah, program magang berhasil dilalui. Banyak suka dan duka dilalui dengan memegang predikat sebagai 'reporter magang'. Ngaku reporter dari suatu media tapi tanpa tanda pengenal.. :v Saya sendiri magang di salah satu tv lokal di wilayah Cirebon. Kenapa memilih Cirebon? Alasan pertama, lebih deket dengan rumah. Jarak Cirebon - Losari jika dilalui dengan naik angkutan umum hanya memakan waktu satu jam. Kedua, saya fikir biaya hidup di Cirebon masih wajar dan normal dibawah rata-rata Bandung, ehh ternyata tidak.. :v Hari pertama magang bertepatan dengan awal puasa, 6 Juni 2016. Awalnya, kenapa memilih tv dibanding media cetak ya karena tidak mau jadi reporter lapangan, Haha.. Tapi nasib berkata lain, setelah basa-basi dan ngobrol sebentar dengan pemimpin redaksi, malah saya ditempatkan bener-bener untuk terjun ke lapangan ditambah beban yang saya pegang bagian rubrik hukum dan kriminal. Random banget.. :v Hari itu pula saya langsung ditugaskan mencari berita atau i...

Deskripsi Diri

Saya akan mendeskripsikan diri saya sendiri. Nama saya Riyanto Kasnuri, anak kedua dari empat bersaudara. Nama Riyanto Kasnuri mempunyai arti tersendiri, kata ‘Riyanto’ berasal dari Bahasa Jawa kuno yang artinya Keberuntungan, sedang kata Kasnuri menunjukan identitas nama bapak saya. Jadi, kalau secara singkat dan menurut pemahaman saya sendiri, nama Riyanto Kasnuri mempunyai arti pengharapan seorang bapak yang bernama Kasnuri supaya anak laki-laki pertamanya selalu mendapat Keberuntungan dari Sang Pencipta. Saya asli dari Jawa Tengah, tepatnya dari Brebes. Kota kecil penghasil telor asin dan bawang merah. Umur saya sekarang menginjak 19 tahun, kelahiran 1994. Mempunyai kaka perempuan, dan dua adik yakni laki-laki dan perempuan. Saya bersekolah di SDN Prapag Kidul 2 dari tahun 2000-2006, melanjutkan ke SMPN 3 Losari tahun 2006-2009, dan di SMK Muhammadiyah Bulakamba dari tahun 2009-2012. Serta, sekarang kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fa...