Langsung ke konten utama

75 Hari 'Dikerjain' Skripsi, Suka Duka Pengen Sarjana

Setelah sekian lama, ehh baru 4 bulan berlalu menyelesaikan, ane ingin berbagi cerita saat mengerjakan skripsi dulu. Sekedar berbagi cerita untuk teman-teman yang akan dan sedang berpacu skripsi, agar selalu semangat dan berjuang menyelesaikan skripsi. Ciyat cyat.. :-D

Ane tergerak untuk menulis ini setelah melihat fitur kenangan di facebook, tepat setahun yang lalu (15 Mei 2016 sih, tepatnya) melakukan kunjungan lapangan ke komunitas Ahmadiyah di Kuningan. Komunitas Ahmadiyah inilah inspirasi pertama permasalahan yang ingin ane teliti untuk kajian skripsi.

Iya, ane memikirkan topik skripsi jauh ketika pas masih semester 6. Bukan apa-apa sih, target ane emang pengen lulus cepat. Secepat kilat, wkwk. Alasannya biar nggak usah bayar SPP0 di semester 8. Jadi kalo ane sidang di semester 7 otomatis semester 8 sudah free. Haha

Menurut peraturan, minimal S1 ditempuh dengan 3.5 tahun. Nggak boleh 3 tahun, apalagi cuman 1.5 tahun. Haha. Nah, sebenarnya di kampus ane mulai penyusunan skripsi di semester 8, dengan diawali mata kuliah semeinar proposal di semester 7. Jadi sistematikanya seperti gini. Semester 7 mengajukan proposal, semester 8 kalau di Acc langsung bisa mengerjakan (Tentunya setelah mendapat dosen pembimbing, wkwk).

Ok, balik lagi. Karena ada suatu hal, di fakultas ane mempercepat proses. Jadi, yang biasanya proposal nunggu 1 semester lagi ini mah bisa by pass. Seneng banget ane dapat kabar gini, memperlancar misi nih. Wkwk

Inget banget ketika persentasi proposal. Btw, tiap kampus punya peraturan berbeda. Ada yang mahasiswa langsung dapat dosen pembimbing, jadi mahasiswa bisa langsung konsultasi masalah judul dengan pembimbingnya. Dan ada pula kampus yang menerapkan. Mahasiswa tidak mendapat langsung dosen pembimbing, jadi persentasi proposal, setelah lolos, baru deh mendapat dosen pembimbing. Nah kampus ane menerapkan poin yang kedua gaeesss...

Jadi pas ane bingung menentukan sub masalah, memang bener hasil pemikiran sendiri. Enaknya memang gitu, mahasiswa bisa bereksplorasi, tapi minusnya kudu siap-siap dibantai. Huhu

Apalagi pas itu, ane saking ngototnya pengen cepet, minta maju persentasi proposal di pertemuan pertama kuliah. Gagap, grogi sudah biasa. Masalahnya pas itu memang sudah ketemu, tetapi masih umum tidak mendeskripsikan secara khusus. Wassalam, revisi. Bahkan ketika teman-teman yang lain mendapat Acc cepat, ane masih bolak-balik revisi. Akhirnya, usaha tak pernah membohongi hasil. Di revisian ke-empat mendapat tanda tangan acc. Dari yang awalnya membahas “Website Ahmadiyah Sebagai Media Pembentuk Opini”, hingga mentok di “Strategi Komunikasi Jemaat Ahmadiyah Dalam Mempertahankan Eksistensi Kelompok“.

Ini belum 100%  lolos lho, karena masih ada sidang DBS = Dewan Bimbingan Skripsi, tujuannya0 ya untuk menentukan dosen mana yang kayaknya cocok menjadi dosen pembimbing kita. Nah di sidang ini, kita bakal pesentasikan lagi di depan Prodi dan Fakultas, kita harus benar-benar meyakinkan bahwa kita mampu menyelesaikan permasalahan yang kita angkat.

Nah, setelah lolos. Harus nunggu satu bulan lamanya untuk mengetahui dosen mana yang bakal mendampingi kita. ada yang was-was, pengen dapat pembimbing kayak dosen A, B, terus juga takut mendapat dosen killer, takut dosen yang didapat nggak sesuai, dan apalah-apalah. Haha

Alhamdulillah, ane mendapat dosen yang sesuai memang apa yang ane harapkan, yakni Dr. Yosal Iriantara or Pak Yosal. banyak yang bilang, beliau super killer, tapi bagi ane beliau tipe orang yang tegas, tanpa basa-basi, bukan dosen PHP, on-time, pokoknya dosen favorit ane banget. Walau di mata kuliah beliau, ada satu nilai ane yang membuat sakit hati. Wkwk

Untungnya, untuk dosen pembimbing kedua ane bisa memilih opsi. Sempat ditawarkan dosen A, tapi ane tolak lebih memilih dosen B, yakni Sutisna, S.Sos, M.Si, atau biasa dipanggil Pak Tisna. Alasannya sih simpel, masalah ane sedikit berbau agama dan kontroversi, sedang track record dosen A untuk masalah pluralisme menurut ane minus, ya jadi pilih aman aja. Takut bentrok sama ane, entar ane bahas dari sistem komunikasi malah nyambung kemana-mana. Wkwk :v

Ok, lanjut lagi nih. setelah mendapat dosen pembimbing, ane langsung gerak cepat mengajukan proposal ke kedua dosen pembimbing. Dosen pembimbing pertama mah, emang watak dan sikapnya begitu, tanpa basa-basi, yang penting isi sesuai. Beliau juga salah satu yang dituakan di fakultas ataupun kampus. dosen yang kedua tahu tentang dosen pertama, jadi kata beliau yaa manut-manut aja dengan dosen pertama paling menambahkan saja. “Masalah yang kamu angkat cukup sensitif dan agak berat. Tapi, Bapak mah ngikutin  Pak Yosal (Dosbim 1) saja, bapak percaya dengan kemampuan beliau dalam masalah yang sangat sensitif ini. Paling dari bapak entar menambahkan”. Horrrreeee..!!!

Ane langsung garcep (gerak cepat. Pak Yosal langsung meminta draft BAB I - III. Wih, cepet banget nih dalam hati ane. Wkwk. Nah langsung tancep gas, seminggu kelar dengan bahan yang SEADANYA. WKwk, dan hasilnya juga SEADANYA. HAha

Oh iya, salah satu hal yang paling menyenangkan bimbingan dengan beliau adalah. Kita ngga harus menunggu berjam-jam untuk konsultasi bimbingan dengan beliau, “Taruh saja drft-nya di mmeja bapak, entar bapak periksa”. Ngumpulin hari rabu, kamis langsung bisa diambil dengan coretan ala-ala dokter. Cepet banget kan, haha. Iya, emang prinsip beliau ketika menjadi dosen pembimbing adalah beliau akan membantu mahasiswa yang benar-benar niat mengerjakan. Dan akan mempersulit bagi mahasiswa yang hare-harap (bermalas-malasan)  Wow, super kan. Haha

Revisian, iya Rata-rata di BAB II tentang Kajian Teori. Harus lebih mendalam kaitan dengan Komunikasi dan tentunya Judulnya. HAha. 

Sekali, dua kali, sampe cuman tiga kali revisi. Puji Tuhan banget, di ajukan ke Pak Tisna juga beliau paling revisi dari layout dan tata bahasa penulisan. Pokoknya, dipermudah banget sumpah dengan kedua dosen pembimbing ini. Kalau dihitung-hitung, cuman menghabiskan 10 bulan untuk acc BAB I-III. Mulai menulis BAB I akhir Oktober, dan ACC BAB I-III di akhir November. awal Desember ane udah mulai mikir-mikir untuk BAB IV yakni PEMBAHASAN, yang harus melakukan penelitian.

Ane mulai koordinasi dengan JAI Manislor, Kuningan yang akan menjadi tempat ane penelitian selama 4 hari. Untuk mengambil sampel komunitas. Ane udah mikir apa yang bakal terjadi, Udah lah, nawwaitu saja, banyak yang menakut-nakuti. Walau dulu sempat berkunjung, tetapi berbeda. Dulu bersama rombongan dan cuman setengah hari, nah kalau sekarang udah sendiri 4 hari pula. WKwk :D

Pengalaman penelitian di JAI Manislor, sebelumnya sudah pernah saya tulis. Nah, ini dia..

Ok lanjuuuuttt ke skripsi. Setelah melakukan penelitian, nah ini BAB yang paling males. Menulis hasil penelitian, untuk menyiasati ini ane memilih untuk pulang kampung dulu. Berharap setelah melihat keluarga secara langsung dapat memberikan semangat lagi. Tapi ehh tapi, tetap aja, buka laptop > dengerin wawancara narasumber. Parahnya, 9 narasumber yang di wawancarai menjawab hal yang hampir sama, dan rata-rata 1 org narasumber 10 jam. Tah, bayangin tuh. Budeg-budege dah kuping lu. Wkwk :v

Ok lah, api semangat untuk beres skripsi akhir tahun kembali menyala. Ane bela-belain dengerin hasil wawancara 9 narasumber. Untuk mengatasi kebudegan, ane memilih satu orang narasumber/ hari. Jadi, biar kagak bosen juga. Jadilah, 10 hari transkrip hasil wawancara. Haha :D

Hasil wawancara udah clear, saatnya olah data. Ane bela-belain tiap0 malam begadang. Minimal mata baru merem jam 1 dini hari. Kadang bisa sampe subuh, atau pernah juga0 nggak tidur. Wkwk, perjuangan banget dah..!!

Dan, tanggal 29 Desember alhamdulillah BAB IV sudah berhasil dikerjakan. Besoknya, ane langsung ngejar ke kampus untuk ketemu dosen dan menyerahkan hasil penelitian. Saking ngebutnya beres BAB IV akhir tahun sampe lupa, kalau tanggal 30 sudah diliburkan. WKwk, alhasil ane cuma bisa nemuin meja kosong, dan staff yang sedang beres2, ane coba tanya ke staff yang bersangkutan dan dijawab, “Bapak (Yosal)  sudah libur, taruh saja di meja0 beliau”

Fyuuh, ga papa lah. Ane menanti banget hari senin tgl 3 Jan sambil berdoa semoga bapak sudah memeriksa draft BAB IV. WKwk. Ane emang deg-degan untuk BAB IV, menurut kaka angkatan banyak mahasiswa yang dibimbing oleh Pa Yosal mendapat kritikan pedas secara langsung yang kadang nggak enak untuk di dengerian. Nambah deg-degan dong. Ane mikir kemana-mana dan udah siap apapun resikonya, kalau disuruh balik penelitian juga oke lah yang penting selesai BAB IV.

Tanggal 3, sehabis ashar. Ane emang sengaja memilih waktu ashar. Waktu dimana ruangan dosen sudah sepi, jadi kalau semisal dimarahin juga ane nggak malu di depan dosen yang lain. HAha

Perlahan ane masuk, dan ruang dosen terlihat sepi, Pak Yosal-pun tak terlihat. Ane mencoba untuk mendekati meja beliau, dan melihat tumpukan draft skripsi/ thesis anak-anak, nggak cuman ane ya. Ane bolak-balik cari draft BAB IV ane, dan ahhha.. akhirnya ketemu juga.

Kaget, gugup, dan tak percaya. BAB IV yang baru ane buat ternyata langsung mendapat ACC, tanpa melewati tahap revisi seperti di bab-bab sebelumnya. Ane mau jingkrakan langsung berhasil melewati tahap ini. tapi ane ngga yakin, ane coba cari-cari Pak Yosal, dan ketemu di ruang TU Fakultas. Ane kembali bertanya untuk meyakinkan, dan apakah bisa langsung melanjutkan BAB V/ terakhir. Jawab beliau singkat, “Iya, lanjutkan BAB0 V”. Horrreee…!!!

Ane kembali semangat untuk menulis BAB V. Untuk ke Pa Tisna memang beliau hanya meminta hasil yang sudah disetujui oleh Pa Yosal, jadi nggak perlu harus ketemu langsung denga beliau. BAB V beres, dan melangkah ke lembaran-lembaran pelengkap. Dan, sebelum semester 7 berakhir, atau tepatnya tanggal 10 Januari ane sudah menyelasikan skripsi. Wowo, nggak nyangka banget bisa menyelasikan skripsi hanya dalam kurun tak lebih dari 3 bulan. Puji Tuhan!

Senang, sekaligus sedih. Senang, bisa selesai sesuai target. Sedih, karena ane tetap kudu bayar SPP semester 8 walaupun sudah menyelesaikan skripsi di semester 7. Naha cik? Ditunggu di tulisan selanjutnya weh. Ok? Wkwk

Foto Riyanto Kasnuri.

Foto Riyanto Kasnuri.

Foto Riyanto Kasnuri.

Foto Riyanto Kasnuri.

Foto Riyanto Kasnuri.


Foto Riyanto Kasnuri.

Foto Riyanto Kasnuri.


Komentar

  1. enak banget bro, saya aja mau ketemu dospem susahnya minta ampun, drama dulu, debat dulu, di wa gadibales. mau nangis tapi gabisa. Ini semua masalah waktu bro, ga logis banget kalo lulus ga tepat waktu karena karena dosennya susah, ga kooperatif walaupun udah kita turutin kemauannya :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKN, Katanya Kuliah Kerja Nyata

Yuhu posting 2017 pertama.. :D Lama ngga berbagi cerita, entah kenapa malam ini ane keinget pas jaman-jaman KKN 2 bulan yang lalu. Disini, ane bakal sedikit cerita suka duka selama KKN. BTW, KKN di beberapa kampus memang sudah menjadi kewajiban bagi tiap-tiap mahasiswa. Awal ane ikut KKN juga cuman sebagai persyaratan ikut sidang skripsi. Nah gini ceritanya. Kalau biasanya KKN dilakukan secara bersama-sama antar fakultas tetapi beda dengan yang ada di fakultas ane. Hanya khusus satu fakultas saja yang ikut KKN atau diartikan sebagai KKN Mandiri (: bukan nama bank ye). Ada plus minusnya, plusnya kita udah kenal satu sama lain, minusnya ya elu lagi elu lagi. Wkwaw.. :v Tetapi kenal akrab di kampus bukan jaminan bakal akrab juga di desa kita KKN. Nah lho? Baca dulu aja yee :D Nah tahun ini KKN dilaksanakan periode Januari – Februari 2017. Pesertanya mahasiswa 2 angkatan dari 3 jurusan di FIKOM (Jurnalistik, Perpustakaan, dan PR). Pas itu, ane sendiri lagi sibuk-sibuknya dengan ba...

Pengalaman Magang : Merasakan Jadi Wartawan Kriminal

Alhamdulillah, program magang berhasil dilalui. Banyak suka dan duka dilalui dengan memegang predikat sebagai 'reporter magang'. Ngaku reporter dari suatu media tapi tanpa tanda pengenal.. :v Saya sendiri magang di salah satu tv lokal di wilayah Cirebon. Kenapa memilih Cirebon? Alasan pertama, lebih deket dengan rumah. Jarak Cirebon - Losari jika dilalui dengan naik angkutan umum hanya memakan waktu satu jam. Kedua, saya fikir biaya hidup di Cirebon masih wajar dan normal dibawah rata-rata Bandung, ehh ternyata tidak.. :v Hari pertama magang bertepatan dengan awal puasa, 6 Juni 2016. Awalnya, kenapa memilih tv dibanding media cetak ya karena tidak mau jadi reporter lapangan, Haha.. Tapi nasib berkata lain, setelah basa-basi dan ngobrol sebentar dengan pemimpin redaksi, malah saya ditempatkan bener-bener untuk terjun ke lapangan ditambah beban yang saya pegang bagian rubrik hukum dan kriminal. Random banget.. :v Hari itu pula saya langsung ditugaskan mencari berita atau i...

Deskripsi Diri

Saya akan mendeskripsikan diri saya sendiri. Nama saya Riyanto Kasnuri, anak kedua dari empat bersaudara. Nama Riyanto Kasnuri mempunyai arti tersendiri, kata ‘Riyanto’ berasal dari Bahasa Jawa kuno yang artinya Keberuntungan, sedang kata Kasnuri menunjukan identitas nama bapak saya. Jadi, kalau secara singkat dan menurut pemahaman saya sendiri, nama Riyanto Kasnuri mempunyai arti pengharapan seorang bapak yang bernama Kasnuri supaya anak laki-laki pertamanya selalu mendapat Keberuntungan dari Sang Pencipta. Saya asli dari Jawa Tengah, tepatnya dari Brebes. Kota kecil penghasil telor asin dan bawang merah. Umur saya sekarang menginjak 19 tahun, kelahiran 1994. Mempunyai kaka perempuan, dan dua adik yakni laki-laki dan perempuan. Saya bersekolah di SDN Prapag Kidul 2 dari tahun 2000-2006, melanjutkan ke SMPN 3 Losari tahun 2006-2009, dan di SMK Muhammadiyah Bulakamba dari tahun 2009-2012. Serta, sekarang kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fa...