Ini tulisan kedua saya tentang Ahmadiyah, kalau sebelumnya pertengahan bulan Mei lalu hanya sekedar kunjungan biasa kali ini saya akan bercerita tentang berada di lingkungan komunitas Ahmadiyah selama tiga hari..
Menghabiskan tiga hari empat malam untuk melakukan penelitian di Kuningan, menyempatkan dua hari satu malam untuk singgah pulang ke rumah, sebelum melanjutkan lagi ke Ibukota demi menghadiri pernikahan saudara..
Jadwal seminggu kemarin memang cukup padat, wajar mungkin jika akhir-akhir ini energi sedikit terkuras, transkrip wawancara belum semuanya dibahas. Jangan tanya bab 4 sampai dimana, masih mentok di temuan umum penelitian.. >.<
Sempat was-was selama perjalanan dari Bandung menuju TKP yang berada di Manislor, Jalaksana, Kab. Kuningan. 'Apa yang harus dilakukan ketika pertama kali nyampe?'. Untuk menjawab hal ini, bahkan beberapa kali nanyain ke senior tentang persiapan apa saja yang harus disipkan, nanya ke beberapa teman juga yang sebelumnya pernah melaksanakan penelitian. 'Hal apa sih yang kamu lakuin ketika baru sampe tempat penelitian?', dan itu cukup konyol.. >.<
Sampai di Manislor minggu malam dan bertepatan dengan adanya peringatan maulid nabi. Lho, bukannya nabi-nya kalangan Ahmadiyah itu bukan nabi Muhammad? kok bisa mengadakan peringatan maulid nabi?. Ini memang anggapan yang jamak ditemui bagi mereka yang belum tahu Ahmadiyah dari sumbernya langsung. Malam itu hujan cukup deras, bertempat di Masjid An-Nur tapi tidak menyurutkan semangat jemaah yang menghadiri, dua lantai masjid hampir penuh. Gue cuman bisa geleng-geleng kepala. Gilaaa, di kampung, hujan dikit aja jemaahnya sepi apalagi ini yang cukup deras..
Disambut dengan tangan terbuka di sebuah 'guest house' milik JAI, tidak ketinggalan budaya khas Indonesia 'obrolan basa-basi' turut membantu mencairkan suasana. Setelah ngalor ngidul ngobrolin hal apapun, akhirnya ditemani dengan Pak Woro (penanggung jawab tamu) untuk menuju ke sebuah kamar sebagai tempat istirahat selama berada di Manislor. Akhirnya, terpecahkan jawaban dari pertanyaan diatas 'ngobrol basa-basi'.. :-D
Hari pertama bagaimana? Ya, masih sedikit canggung, mungkin wajar. Lingkungan dan suasana yang baru, mau langsung alay juga mana bisa. Ditemani dengan Pa Irfan selaku Mubaligh dan pembimbing selama penelitian, saya diantarkan untuk bertemu dengan ketua JAI Manislor, sekaligus langsung untuk melakukan wawancara..
Deg-deg-deg, perkenalan selesai dilanjut dengan tanya jawab tentang proses dan pola komunikasi di lingkungan JAI Manislor. Cara bertanya masih sedikit canggung, masih kaku dan terpaku dengan item pertanyaan yang sudah disiapkan dalam kisi-kisi penelitian. Dan itu memakan waktu selama tiga jam, towew towew towew.. :v
Dan sialnya, wawancara tiga jam tadi tidak terekam gara-gara hp mati selama proses tanya jawab. Untungnya ada beberapa inti dari jawaban yang berhasil dicatat.. -_-
Wawancara pertama done, dan target selanjutnya adalah Pak Mubaligh. Tokoh penting sebagai opinion leader dalam proses komunikasi, wawancara mulai berjalan santai dan mulai bisa terlepas dari kertas kisi-kisi..
Hari pertama cuma berhasil wawancara dua narasumber, pihak kepala desa sebagai narsum ketiga berhalangan dan jadwal berubah. Hari kedua, narasumber datang sendiri ke guest house, ada Fivo sebagai bagian dari Buletin Kita (media komunitas warga Ahmadi Manislor) dan Pak Woro sebagai salah satu pengurus Ansharullah (badan otonom dalam JAI). Cuman memakan waktu satu jam, setelah itu diajak untuk berkeliling desa untuk melihat eksistensi anggota JAI, dari pembangunan masjid yang semakin bertambah, melihat 9 masjid milik Ahmadiyah ( salah satu diantaranya mengalami tiga kali renovasi karena sering dibakar dan diserang), hingga geliat usaha yang dijalankan oleh anggota JAI. Mampir sebentar ke kediaman bu Mudiati selaku ketua KWT, koperasi yang diperuntukan bagi kelompok wanita dalam JAI..
Sore harinya selepas ashar, saya diajak pa Mubaligh untuk berkunjung ke salah seorang pengurus Khudam (kududukannya sama dengan Ansharullah), sekaligus narasumber ketiga. Beres wawancara, saya diajak untuk mengikuti kegiatan pengajian ba'da maghrib kelompok JAI di salah satu masjid Ahmadi..
Ada kejadian lucu, dimana sebelum pengajian beberapa jemaah maghrib mengarahkan pandangannya ke saya sambil berbisik-bisik, termasuk diantaranya Pak Mubaligh. Suasana cukup sepi, ditambah letak masjid yang masuk ke dalam pemukiman. 'Haduh, jangan-jangan saya mau dibai'at secara paksa nih. Sengaja pasti dibawa kemari.' Berada ditengah-tengah mereka dan semakin menambah rasa kecurigaan.. >.<..
Dan, ketika mulai acara pengajian. Pembawa acara mempersilahkan saya untuk menyampaikan sambutan sepatah dua kata sambil mengenalkan diri dan juga maksud - tujuan ada di Manislor. Tidak ada proses pemaksaan untuk pembait'an yang tadi difikirkan.. :v
Jujur sih, meskipun sudah tiga tahun lebih mengenyam pendidikan komunikasi, aktif di organisasi dan berbagai diskusi. Tapi soal berbicara di depan umum, saya bukan ahlinya. Dari pengalaman, saya selalu mempersiapkan isi teks sambutan sebelum maju ke depan. Tapi tetap, ada saja kata yang tak terucapkan. Itu contoh sambutan yang bener-bener difikirkan, apalagi ini yang cuman dadakan.. :v
Demi penelitian, akhirnya mantap maju ke depan walau masih bingung apa yang akan diomongkan. Dan di luar dugaan, ini kali pertama saya bisa berbicara dengan tenang di hadapan orang banyak. Banyak jemaah yang tersenyum dengan pemaparan yang saya utarakan..
Selepas Isya, saat akan kembali ke guest house, pa mubaligh mengajak untuk mampir di salah satu rumah milik anggota JAI. Diterima dengan hangat oleh seorang pria parubaya, saya iseng bertanya 'Pa, ada Tadzkirah?'. 'Hah, Tadzkirah? 'Iya pak, katanya itu kitab suci Ahmadiya'. Bapak tadi tersenyum, 'Saya tidak punya Tadzkirah, kalau Al Qur'an saya ada, ini (sambil menunjukan Al Qur'an yang berada di meja sebelah)..
Mubaligh menjelaskan, memang banyak orang dan kelompok anti Ahmadiyah yang menuduh Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri yakni Tadzkirah. Padahal di Ahmadiyah sendiri, Tadzkirah hanya sebagai kumpulan catatan harian dari Mirza Ghulam Ahmad dan kebanyakan anggota Ahmadiyah sendiri tidak mempunyai buku ini, biasanya hanya terdapat di perpustakaan kantor..
Puas dengan penjelasan mubaligh, kita langsung bergegas menuju ke guest house karena kepala desa bisa untuk wawancara malam. Kepala desa Manislor juga ternyata seorang Ahmadi, dan juga menjabat sebagai Amir daerah JAI wilayah Ciayumajakuning. Memang wajar, jika kades Manislor rata-rata dijabat oleh Ahmadi karena komunitas Ahmadiyah membentuk 70% dari keseluruhan warga Manislor..
Dari wawancara dengan kades, diketahui bahwa banyaknya tindakan diskriminasi yang mengarah ke anggota JAI di Manislor. Dari mulai tidak diberikannya e-KTP, tidak bisa melakukan pengurusan ibadah haji, hingga pernikahan-pun dipersulit. Anak-anak Ahmadi juga sering mendapat tindakan diskriminasi di sekolah dari guru agama. Anehnya, walaupun untuk berbagai keperluan administratif dipersulit namun hak pilih anggota JAI tidak dicabut, artinya suara mereka tetap diperlukan ketika ada pemilihan umum. Agenda politik tentang isu Ahmadiyah memang selalu menarik untuk diangkat..
Hari kedua selesai, dan hari ketiga atau hari terakhir berada di Manislor. Kegiatan tidak terlalu padat, hanya menunggu data dari dua narasumber lagi, yakni dari anggota Buletin Kita dan dari badan otonom wanita Ahmadiyah atau Lajnah Imaillah. Lebih terkonsentrasi pada pengambilan gambar dokumentasi dan data-data yang dibutuhkan..
Kamis pagi selepas shalat subuh dan sebelum saya ijin telah selesai penelitian. Mubaligh menghampiri dan bertanya tentang kelengkapan data yang telah saya ambil, mubaligh siap untuk ditanya-tanya lagi. Terlanjur kepo, saya coba bertanya 'Pak, bagaimana tanggapan Ahmadiyah mengenai orang-orang yang bukan anggota Jemaat? Apakah memandangnya 'maaf' sebagai najis? Ada seorang yang mengatakan bahwa ketika ia melaksanakan sholat di masjid Ahmadi, lanti yang dipakai untuk ia sholat langsung di pel?
Sambil berkelakar mubaligh menjawab, 'Lha, mau di pel gimana. Masjid di Ahmadiyah kan sebagian besar memakai karpet bukan lantai biasa. Masa, karpet mau di pel, ada-ada saja..' :v
Data yang dibutuhkan insya Allah cukup, akhirnya saya pamitan pulang. Banyak informasi baru yang didapat, ini juga salah satu saya untuk Tabayyun menghadapi gencarnya peng-kafir-an Ahmadiyah dari segelintir ormas. Belajar langsung dari sumbernya, melihat dan memperhatikan, bandingkan dengan data yang sebelumnya kita dapat. Tentu jawabannya sudah pasti terlihat..
Untuk konflik Suriah, apakah harus juga melakukan penelitian hal serupa ke Aleppo untuk membuktikan kebenaran yang nyata? Banyak pihak yang bermain dan mencoba mengambil keuntungan dalam konflik Suriah, bagaimana mungkin media sekelas BBC untuk aksi 212 dibully tapi untuk pemberitaan Aleppo mereka dipuji?
Terima kasih Manislor, mengajarkan banyak hal. Persatuan, Persaudaraan, Iman, Ketaatan, dan Kasih sayang, meminjam slogan Jemaat Ahmadiyah Internasional 'Love for All, Hatred for none'..
Menghabiskan tiga hari empat malam untuk melakukan penelitian di Kuningan, menyempatkan dua hari satu malam untuk singgah pulang ke rumah, sebelum melanjutkan lagi ke Ibukota demi menghadiri pernikahan saudara..
Jadwal seminggu kemarin memang cukup padat, wajar mungkin jika akhir-akhir ini energi sedikit terkuras, transkrip wawancara belum semuanya dibahas. Jangan tanya bab 4 sampai dimana, masih mentok di temuan umum penelitian.. >.<
Sempat was-was selama perjalanan dari Bandung menuju TKP yang berada di Manislor, Jalaksana, Kab. Kuningan. 'Apa yang harus dilakukan ketika pertama kali nyampe?'. Untuk menjawab hal ini, bahkan beberapa kali nanyain ke senior tentang persiapan apa saja yang harus disipkan, nanya ke beberapa teman juga yang sebelumnya pernah melaksanakan penelitian. 'Hal apa sih yang kamu lakuin ketika baru sampe tempat penelitian?', dan itu cukup konyol.. >.<
Sampai di Manislor minggu malam dan bertepatan dengan adanya peringatan maulid nabi. Lho, bukannya nabi-nya kalangan Ahmadiyah itu bukan nabi Muhammad? kok bisa mengadakan peringatan maulid nabi?. Ini memang anggapan yang jamak ditemui bagi mereka yang belum tahu Ahmadiyah dari sumbernya langsung. Malam itu hujan cukup deras, bertempat di Masjid An-Nur tapi tidak menyurutkan semangat jemaah yang menghadiri, dua lantai masjid hampir penuh. Gue cuman bisa geleng-geleng kepala. Gilaaa, di kampung, hujan dikit aja jemaahnya sepi apalagi ini yang cukup deras..
Disambut dengan tangan terbuka di sebuah 'guest house' milik JAI, tidak ketinggalan budaya khas Indonesia 'obrolan basa-basi' turut membantu mencairkan suasana. Setelah ngalor ngidul ngobrolin hal apapun, akhirnya ditemani dengan Pak Woro (penanggung jawab tamu) untuk menuju ke sebuah kamar sebagai tempat istirahat selama berada di Manislor. Akhirnya, terpecahkan jawaban dari pertanyaan diatas 'ngobrol basa-basi'.. :-D
Hari pertama bagaimana? Ya, masih sedikit canggung, mungkin wajar. Lingkungan dan suasana yang baru, mau langsung alay juga mana bisa. Ditemani dengan Pa Irfan selaku Mubaligh dan pembimbing selama penelitian, saya diantarkan untuk bertemu dengan ketua JAI Manislor, sekaligus langsung untuk melakukan wawancara..
Deg-deg-deg, perkenalan selesai dilanjut dengan tanya jawab tentang proses dan pola komunikasi di lingkungan JAI Manislor. Cara bertanya masih sedikit canggung, masih kaku dan terpaku dengan item pertanyaan yang sudah disiapkan dalam kisi-kisi penelitian. Dan itu memakan waktu selama tiga jam, towew towew towew.. :v
Dan sialnya, wawancara tiga jam tadi tidak terekam gara-gara hp mati selama proses tanya jawab. Untungnya ada beberapa inti dari jawaban yang berhasil dicatat.. -_-
Wawancara pertama done, dan target selanjutnya adalah Pak Mubaligh. Tokoh penting sebagai opinion leader dalam proses komunikasi, wawancara mulai berjalan santai dan mulai bisa terlepas dari kertas kisi-kisi..
Hari pertama cuma berhasil wawancara dua narasumber, pihak kepala desa sebagai narsum ketiga berhalangan dan jadwal berubah. Hari kedua, narasumber datang sendiri ke guest house, ada Fivo sebagai bagian dari Buletin Kita (media komunitas warga Ahmadi Manislor) dan Pak Woro sebagai salah satu pengurus Ansharullah (badan otonom dalam JAI). Cuman memakan waktu satu jam, setelah itu diajak untuk berkeliling desa untuk melihat eksistensi anggota JAI, dari pembangunan masjid yang semakin bertambah, melihat 9 masjid milik Ahmadiyah ( salah satu diantaranya mengalami tiga kali renovasi karena sering dibakar dan diserang), hingga geliat usaha yang dijalankan oleh anggota JAI. Mampir sebentar ke kediaman bu Mudiati selaku ketua KWT, koperasi yang diperuntukan bagi kelompok wanita dalam JAI..
Sore harinya selepas ashar, saya diajak pa Mubaligh untuk berkunjung ke salah seorang pengurus Khudam (kududukannya sama dengan Ansharullah), sekaligus narasumber ketiga. Beres wawancara, saya diajak untuk mengikuti kegiatan pengajian ba'da maghrib kelompok JAI di salah satu masjid Ahmadi..
Ada kejadian lucu, dimana sebelum pengajian beberapa jemaah maghrib mengarahkan pandangannya ke saya sambil berbisik-bisik, termasuk diantaranya Pak Mubaligh. Suasana cukup sepi, ditambah letak masjid yang masuk ke dalam pemukiman. 'Haduh, jangan-jangan saya mau dibai'at secara paksa nih. Sengaja pasti dibawa kemari.' Berada ditengah-tengah mereka dan semakin menambah rasa kecurigaan.. >.<..
Dan, ketika mulai acara pengajian. Pembawa acara mempersilahkan saya untuk menyampaikan sambutan sepatah dua kata sambil mengenalkan diri dan juga maksud - tujuan ada di Manislor. Tidak ada proses pemaksaan untuk pembait'an yang tadi difikirkan.. :v
Jujur sih, meskipun sudah tiga tahun lebih mengenyam pendidikan komunikasi, aktif di organisasi dan berbagai diskusi. Tapi soal berbicara di depan umum, saya bukan ahlinya. Dari pengalaman, saya selalu mempersiapkan isi teks sambutan sebelum maju ke depan. Tapi tetap, ada saja kata yang tak terucapkan. Itu contoh sambutan yang bener-bener difikirkan, apalagi ini yang cuman dadakan.. :v
Demi penelitian, akhirnya mantap maju ke depan walau masih bingung apa yang akan diomongkan. Dan di luar dugaan, ini kali pertama saya bisa berbicara dengan tenang di hadapan orang banyak. Banyak jemaah yang tersenyum dengan pemaparan yang saya utarakan..
Selepas Isya, saat akan kembali ke guest house, pa mubaligh mengajak untuk mampir di salah satu rumah milik anggota JAI. Diterima dengan hangat oleh seorang pria parubaya, saya iseng bertanya 'Pa, ada Tadzkirah?'. 'Hah, Tadzkirah? 'Iya pak, katanya itu kitab suci Ahmadiya'. Bapak tadi tersenyum, 'Saya tidak punya Tadzkirah, kalau Al Qur'an saya ada, ini (sambil menunjukan Al Qur'an yang berada di meja sebelah)..
Mubaligh menjelaskan, memang banyak orang dan kelompok anti Ahmadiyah yang menuduh Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri yakni Tadzkirah. Padahal di Ahmadiyah sendiri, Tadzkirah hanya sebagai kumpulan catatan harian dari Mirza Ghulam Ahmad dan kebanyakan anggota Ahmadiyah sendiri tidak mempunyai buku ini, biasanya hanya terdapat di perpustakaan kantor..
Puas dengan penjelasan mubaligh, kita langsung bergegas menuju ke guest house karena kepala desa bisa untuk wawancara malam. Kepala desa Manislor juga ternyata seorang Ahmadi, dan juga menjabat sebagai Amir daerah JAI wilayah Ciayumajakuning. Memang wajar, jika kades Manislor rata-rata dijabat oleh Ahmadi karena komunitas Ahmadiyah membentuk 70% dari keseluruhan warga Manislor..
Dari wawancara dengan kades, diketahui bahwa banyaknya tindakan diskriminasi yang mengarah ke anggota JAI di Manislor. Dari mulai tidak diberikannya e-KTP, tidak bisa melakukan pengurusan ibadah haji, hingga pernikahan-pun dipersulit. Anak-anak Ahmadi juga sering mendapat tindakan diskriminasi di sekolah dari guru agama. Anehnya, walaupun untuk berbagai keperluan administratif dipersulit namun hak pilih anggota JAI tidak dicabut, artinya suara mereka tetap diperlukan ketika ada pemilihan umum. Agenda politik tentang isu Ahmadiyah memang selalu menarik untuk diangkat..
Hari kedua selesai, dan hari ketiga atau hari terakhir berada di Manislor. Kegiatan tidak terlalu padat, hanya menunggu data dari dua narasumber lagi, yakni dari anggota Buletin Kita dan dari badan otonom wanita Ahmadiyah atau Lajnah Imaillah. Lebih terkonsentrasi pada pengambilan gambar dokumentasi dan data-data yang dibutuhkan..
Kamis pagi selepas shalat subuh dan sebelum saya ijin telah selesai penelitian. Mubaligh menghampiri dan bertanya tentang kelengkapan data yang telah saya ambil, mubaligh siap untuk ditanya-tanya lagi. Terlanjur kepo, saya coba bertanya 'Pak, bagaimana tanggapan Ahmadiyah mengenai orang-orang yang bukan anggota Jemaat? Apakah memandangnya 'maaf' sebagai najis? Ada seorang yang mengatakan bahwa ketika ia melaksanakan sholat di masjid Ahmadi, lanti yang dipakai untuk ia sholat langsung di pel?
Sambil berkelakar mubaligh menjawab, 'Lha, mau di pel gimana. Masjid di Ahmadiyah kan sebagian besar memakai karpet bukan lantai biasa. Masa, karpet mau di pel, ada-ada saja..' :v
Data yang dibutuhkan insya Allah cukup, akhirnya saya pamitan pulang. Banyak informasi baru yang didapat, ini juga salah satu saya untuk Tabayyun menghadapi gencarnya peng-kafir-an Ahmadiyah dari segelintir ormas. Belajar langsung dari sumbernya, melihat dan memperhatikan, bandingkan dengan data yang sebelumnya kita dapat. Tentu jawabannya sudah pasti terlihat..
Untuk konflik Suriah, apakah harus juga melakukan penelitian hal serupa ke Aleppo untuk membuktikan kebenaran yang nyata? Banyak pihak yang bermain dan mencoba mengambil keuntungan dalam konflik Suriah, bagaimana mungkin media sekelas BBC untuk aksi 212 dibully tapi untuk pemberitaan Aleppo mereka dipuji?
Terima kasih Manislor, mengajarkan banyak hal. Persatuan, Persaudaraan, Iman, Ketaatan, dan Kasih sayang, meminjam slogan Jemaat Ahmadiyah Internasional 'Love for All, Hatred for none'..



Komentar
Posting Komentar