Langsung ke konten utama

Uninus : Menilik Toleransi Beragama di Kampus Islam


Sebuah fenomena yang menarik berkembang di lingkungan pendidikan di Kota Bandung beberapa tahun belakangan ini. Keputusan untuk memilih perguruan tinggi setelah menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah menengah tentu bukanlah keputusan yang diambil asal-asalan.

Pemilihan universitas bukan melulu masalah akreditasi, tapi juga gengsi dan lingkungan. Ada orang tua yang berjuang agar anaknya masuk perguruan tinggi negeri seperti UNPAD, UPI dan ITB karena dirasa kampus tersebut memiliki gengsi yang luar biasa tinggi di masyarakat, dan ada pula yang memasukkan ke perguruan tinggi Islam seperti UIN, UNISBA, atau UNINUS dengan tujuan agar anak-anaknya kelak bukan saja lulus dengan gelar, tapi juga memiliki pemikiran yang mendalam tentang agama Islam.

Namun, perkembangan dewasa ini kampus berbasis Islam tidak hanya diisi oleh mahasiswa yang beragama Islam, tapi juga mulai diisi oleh mahasiswa non-muslim. Kenapa mereka tertarik? Ada beberapa faktor, salah satunya yakni kualitas pendidikan yang ditawarkan memiliki citra positif di masyarakat.

Seperti diakui oleh Christine Panggabean, mahasiswi tingkat akhir jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam Nusantara (UNINUS) ini sudah empat tahun lebih mengenyam pendidikan di kampus berciri khas Islam Nusantara ini. Christin, panggilan  akrabnya,  yang notabene adalah non-muslim berbagi cerita mengenai pengalamannya selama belajar di Uninus. “Hal menarik mungkin saat awal masuk kuliah, saat BOMB,” Ia memulai cerita.

Perlu diketahui BOMB sendiri adalah kependekan dari Bimbingan Orientasi Mahasiswa Baru, konsepnya tidak jauh berbeda seperti OSPEK dengan sedikit penambahan program pesantren mahasiswa. Selama seminggu, mahasiswa baru tidak hanya diajarkan dengan pengenalan kampus, tetapi juga nilai-nilai keislaman dalam kegiatan pesantren kilat mahasiswa, dan ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru. Tak terkecuali bagi mereka yang non-muslim.

Disinggung mengenai peraturan wajib berkerudung selama BOMB di Uninus,  Christine mengungkapkan, jika ia tidak terpaksa dan menganggapnya sebagai sebuah peraturan. “Memang ada yang menyuruh untuk memakai kerudung selama BOMB, sebenarnya aneh tapi gak papa, soalnya semua temen-temen pakai kerudung, ya ikut menghormati,” jelasnya. Ia juga bercerita jika ia tidak pernah dipaksa untuk memakai kerudung selama kuliah di Uninus, malah ia mengaku beberapa kali mencoba mengenakan kerudung walapun hanya untuk beberapa kegiatan kampus.

Ditanya mengenai matakuliah Al-Islam yang harus ditempuh. Dara campuran Sunda – Batak ini mengaku, ia mengikuti semua mata kuliah tersebut. ”Kuliah seperti biasa. Masuk dan menerima semua mata kuliah yang diajarkan termasuk itu (Matakuliah Al-Islam)” tuturnya.

Selama di Uninus, Christin merasa hampir tidak menemui diskriminasi, “Dosen menghargai keyakinan saya, begitu juga teman-teman,” papar mahasiswi angkatan 2012 tersebut.

Matakuliah Al-Islam sendiri merupakan salah satu materi yang wajib di tempuh semua mahasiswa selama menempuh pendidikan di Uninus, tak terkecuali bagi yang non-muslim.

Christine tidak sendiri, terdapat sejumlah mahasiswa non-muslim yang tersebar di tujuh fakultas dengan berbagai latar belakang. Contoh tadi menjadi sebuah fakta yang terjadi, bahwa dewasa ini stereotip masyarakat mengenai kampus Islam mulai bergeser.

Jika semula kampus Islam hanya menerima mahasiswa beragama Islam. Namun, sekarang, kampus Islam mulai diisi oleh mahasiswa non-muslim. Salah satunya di Uninus, jadi jangan heran kalau bertandang ke Uninus, anda bakal mendapati mahasiswa yang beragama non Islam, atau pemandangan suster yang lengkap mengenakan kalung rosario sedang duduk ngobrol santai di emperan masjid kampus.

Keberadaan mahasiswa non-muslim di kampus yang berasaskan Islam ini tentu menjadi perhatian yang menarik. Bagaimana nilai-nilai toleransi yang dijunjung oleh warga kampus sendiri? Adakah konflik yang memungkinkan untuk tumbuh menjadi isu negatif mengenai perbedaan ini?

Di tengah laporan sejumlah lembaga pemantau kerukunan umat beragama, yang menempatkan Jawa Barat sebagai propinsi teratas dengan tingkat intoleran tertinggi di Indonesia. Justru, di Uninus ini, mahasiswa hidup berdampingan dengan keyakinan dan latar belakang yang berbeda-beda.

Berbagai isu sensitif mengenai konflik antar agama disikapi dengan santai oleh para mahasiswa. Karena para mahasiswa yakin bahwa keyakinan adalah hal yang paling mendalam. "Lakum diinukum waliyaddin" begitulah Islam mengajarkan. Kami semua disini belajar akan arti sebuah perbedaan yang nyata, dan bahwa kita memang berbeda, mengutip lirik lagu band The Lucky-Lucky : meski kita tak sama bukan berarti kita harus bermusuhan..









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Agama: Yakin, Sudah Sepenuh Hati Percaya Tuhan?

Duh baru sempat nulis lagi, di sela-sela kerjaan. Dari beberapa tumpukan buku hadiah dari pak Mubaligh ada salah satu buku yang menarik untuk ane baca di bulan Ramadhan. Isinya ngena banget, apalagi akhir-akhir ini gonjang-ganjing tentang agama 'Warisan'. Hehe Nah judul bukunya Filsafat Ajaran Islam, kumpulan makalah Mirza Ghulam Ahmad, yang ditujukan pada Konferensi Agama-agama di India.  Ada beberapa poin sih, tapi yang paling ane seneng baca pas poin pertama tentang hakikat manusia, dan keyakinan. Berikut sedikit ane share.. Seperti banyak kita ketahui bahwa Allah SWT meniupkan ruh ke dalam jiwa tiap-tiap manusia di umur kehamilan ke empat bulan, atau pada usia pertengahan keberadaannya dalam rahim, janin terus berkembang sebelum terlahir menjadi manusia yang utuh. Hukum   alam   menyebutkan, bahwa    sama   seperti   sebuah   janin yang menghabiskan separuh rentang masa keberadaannya di dalam kandungan,   lalu   mulai ...

Pengalaman Magang : Merasakan Jadi Wartawan Kriminal

Alhamdulillah, program magang berhasil dilalui. Banyak suka dan duka dilalui dengan memegang predikat sebagai 'reporter magang'. Ngaku reporter dari suatu media tapi tanpa tanda pengenal.. :v Saya sendiri magang di salah satu tv lokal di wilayah Cirebon. Kenapa memilih Cirebon? Alasan pertama, lebih deket dengan rumah. Jarak Cirebon - Losari jika dilalui dengan naik angkutan umum hanya memakan waktu satu jam. Kedua, saya fikir biaya hidup di Cirebon masih wajar dan normal dibawah rata-rata Bandung, ehh ternyata tidak.. :v Hari pertama magang bertepatan dengan awal puasa, 6 Juni 2016. Awalnya, kenapa memilih tv dibanding media cetak ya karena tidak mau jadi reporter lapangan, Haha.. Tapi nasib berkata lain, setelah basa-basi dan ngobrol sebentar dengan pemimpin redaksi, malah saya ditempatkan bener-bener untuk terjun ke lapangan ditambah beban yang saya pegang bagian rubrik hukum dan kriminal. Random banget.. :v Hari itu pula saya langsung ditugaskan mencari berita atau i...

Copy Writer: Tukang Photo Copy atau Tukang Bikin Kopi?

Assalamualaikum, salam sejahtera semoga selalu tercurahkan bagi kita semua. Aamiin. Puji syukur selalu dipanjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Terima kasih untuk DOM or FBT Squad, dan tentunya kedua orang tua terutama Ibu yang selalalu mendoakan agar selalu betah dengan segala kerumitan pekerjaan. Oh iya lupa, semenjak SAH menyandang gelar S.I.Kom di awal bulan Maret lalu, Alhamdulillah di akhir Mei mendapatkan tawaran pekerjaan. Dan pertengahan September ini memasuki bulanke empat menjajaki dunia Copy writing di sebuah perusahaan lokal yang  mempunyai visi dan misi menjadi perusahaan Internasional. Aamiin. Apa itu Copy Writing? Pernah nonton film Perahu Kertas 2? Itu lho, kelanjutan atau sekuel dari film Perahu Kertas yang diperankan oleh Adipati Dolken dan Maudy Ayunda yang mengangkat kisah muda-mudi yang mencari jatidiri. Nah, gue tahu istilah copy writing awalnya dari film ini. Awalnya gue kira Copy Writing itu job desk-nya adalah HANYA mem-foto copy berk...