Langsung ke konten utama

Ahmadiyah Kafir, Sesat dan Menyesatkan? Tak Kenal Maka Tak Toleran

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata Manis Lor, Konflik, dan Ahmadiyah?

Dekade 2002-2008, publik kita digentarkan oleh berita pembakaran, pengrusakan, dan penyegelan beberapa masjid milik kelompok Ahmadiyah yang berada di Ds. Manis Lor, Jalaksana, Kuningan. Sebenarnya apa sih Ahmadiyah itu sampe beberapa ormas men-cap kelompok ini sebagai kelompok beraliran sesat, kafir, dan melenceng dari paham agama Islam?

Tanggal 15 Mei kemaren, alhamdulillah kita berkesempatan mengunjungi daerah yang katanya 'rawan konflik' oleh sebagian media massa. Kita berangkat dari Bandung pukul 04.00 (walaupun, di pesan yang disiarkan pada sore hari sebelumnya menyatakan bahwa keberangkatan dari Bandung pukul 03.30). Indonesia banget, menggunakan jam karet. Hahaha. Mungkin aneh kali ya, kalau kita berangkat tepat waktu.. :v

Kita sendiri berjumlah 26 anak, yang merupakan perwakilan dari tiga jurusan yang ada di Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Uninus, yakni Jurnalistik, Public Relations, dan Perinfo (Perpustakaan & Informasi)..

Berhubung kita berangkat 'nyubuh', jadi tidak menemui kendala macet di jalanan. Perjalanan Bandung - Kuningan hanya ditempuh dengan waktu 5 jam. Sebelum sampai, beberapa dari kita masih punya pandangan negatif tentang Ahmdiyah, tapi eiiittsss... baca seterusnya :-D

Dan, pukul 08.40 WIB kita sampai di TKP dengan mengucap syukur, hamdallah, sehat sentosa. Kita disambut, walau tidak se-heboh ala pesantren dengan sekumpulan anak yang memainkan rebana di samping kanan - kiri jalan. Hehe..

Kita disambut bak saudara lama yang baru bertemu kembali. Sebelum acara pembukaan dimulai, masing-masing sibuk dengan urusannya. Ada yang asik siapkan kamera buat selfie, nyari toilet karena kebelet, atau yang buru-buru buka nasi kotak karena belum sempat makan sebelumnya. Haha..

Alhamdulillah, beruntung saya berhasil wawancara sedikit dengan salah seorang Ahmadi (sebutan bagi anggota Ahamdiyah). Fyi, sebelum berangkat ke Kuningan ini saya sudah diperingatkan beberapa teman supaya jangan mengajak dialog seorang Ahmadi dengan bahasan yang panas, apalagi sampai berdebat, 'Inget tho, niat kita hanya berkunjung jangan diajak debat!!!'. Salah saya apa? Tenang kawan, saya hanya ingin meluruskan dari sumber aslinya tentang simpang siur dan rumor sekitar Ahmadiyah.. :v

Namanya Aslam Ahmad, umurnya mungkin sekitar 24 tahun. Dia seorang Ahmadi keturununan, jadi maksudnya kedua orang tua dia merupakan anggota Ahmadiyah. Dia bercerita bahkan keluarga ayahnya berasal dari berbagai lintas iman; ada Katolik, Islam, Protestan, dsb. Dia tidak serta merta mengikuti kedua orang tuanya sebagai seorang Ahmadi, 'saya mecoba untuk mempelajari berbagai aliran, tapi masih dalam baju seorang Ahmadi' singkatnya. Ia sempat marah kepada dirinya sendiri, kenapa harus terlahir dari kedua orang tua yang beraliran Ahmadiyah. Tapi setelah berbagai pencarian, akhirnya dengan mantap yakin mengikuti Ahmadiyah..

Obrolan singkat kami terhenti karena harus segera masuk ke ruangan untuk acara pembukaan. Pembukaan berisi sambutan-sambutan dari kedua belah pihak, pihak JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dan pihak kampus. Setelah ngobrol basa-basi, kita sampai pada penjelasan singkat tentang kegiatan-kegiatan sosial dari anggota Ahmadiyah. Tidak ada doktrinisasi atau penjelasan lebar tentang Ahmadiyah itu apa, pendirinya siapa dan lainnya. Penjelasan hanya bersifat tentang Habluminannas, hubungan sesama manusia..

Ada salah satu yang membuat saya tertarik dan berfikir untuk mengajukan pertanyaan. Dimana, tidak membutuhkan waktu lama dalam membangun masjid, hanya berkisar 3-4 bulan. Menurut saya ini sungguh luar biasa, dimana sebagian besar panitia pembangunan masjid termasuk di daerah saya harus rela mengemis di jalanan hanya untuk membangun rumah Allah. Saya rasa, si mubaligh (sebutan ustad Ahmadiyah) ini mempunyai kecakapan komunikasi yang cukup handal..

Ternyata rumusnya sederhana, sebagian warga Ahmadi memegang teguh Sami'na Wa'ato'na (Kami dengar dan kami lakukan). Peran mubaligh sangat besar dalam hal ini ia mampu menjadi seorang opinian leader (dalam bahasa komunikasi). Kepatuhan warga Ahmadi pada pemimpinnya patut untuk ditiru..

Komunitas Ahmadiyah menjunjung tinggi prinsip agama Islam, yakni menjadi rahmatan lil alamin. Ketika disinggung bagaimana tanggapan mereka dengan kasus penyegelan, pengrusakan masjid-masjid milik Ahmadiyah. Jawaban mereka santai, 'kami membedakan mana urusan dakwah, penyerangan, dan sosial. Toh bahkan ketika malam penyerangan, besoknya kita malah mengumpulkan bantuan untuk korban angin puting beliung di daerah Cirebon Timur'. Info yang saya ketahui, mayoritas atau 75% penduduk ds. Manis Lor merupakan anggota Ahmadiyah. Saya yang mendengar cerita ini malah jadi linu, kok bisa ya mereka menerima hal ini. Terzalimi di kampung sendiri, dan sungguh ironis ternyata si penyerang berasal dari luar daerah bahkan berbeda kabupaten. Mereka yang notabene merupakan penduduk mayoritas desa harus menerima ketika masjid yang digunakan untuk beribadah harus disegel 5 bulan lamanya, berapa ribu rakaat yang harus ditinggalkan secara berjamaah?

Lagian, ngapain si penyerang melakukan keroyokan? Toh, warga Ahmadiyah hanya satu koma sekian persen dari penduduk di kecamatan Jalaksana? Saya langsung rangsek menanyakan kembali, 'Saya selalu percaya ketika mayoritas memimpin mereka akan mengintimidasi atau melakukan dakwah paksaan kepada si minoritas. Apakah berlaku juga di Manis Lor yang penduduknya 75% adalah pengikut Ahmadiyah?' Lagi-lagi jawaban cukup mengejutkan, 'Kita kembali kepada Al Qur'an, tidak ada paksaan dalam beragama. Bahkan perlu diketahui bersama, dekade 60-an 90% penduduk di Manis Lor adalah Ahmadi, tapi semakin menurun sampai sekarang tinggal 75%, kebanyakan yang memilih keluar merasa tekanan masyarakat yang menaruh stigma negatif tentang Ahmadiyah..'

Dalam struktur kepemimpinan desa, tidak semua diisi oleh warga Ahmadiyah. Hal ini dilakukan untuk tidak mengesampingkan hak-hak sesama warga. 2 setengah jam berlalu, karena keterbatasan waktu sesi tanya jawab harus diakhiri. Menjelang Dzuhur, Adzan di masjid Ahmadiyah tidak berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya. Di dalam masjid juga, tidak berbeda dengan masjid lainnya. Ada lafaz Allah dan Muhammad, saya sesekali memperhatikan apakah ada foto atau lafaz Mirza Ghulam Ahmad yang diletakan di dalam masjid? jawabannya TIDAK ada, jadi isu di masyarakat itu salah. Foto Mirza Ghulam AHmad hanya terpampang di ruang tamu sama di dalam Tabligh Centre, kedudukannya mungkin sama seperti foto KH. Hasyim As'ari bagi orang NU, atau foto Ahmad Dahlan bagi kaum Muhammadiyah..

Kalau ada yang bilang kitab suci Ahmadiyah berbeda dan bukan Al Qur'an, itu juga SALAH. Saya mengamati bacaan Qur'an mubaligh ketika mengutip ayat dan bacaan seorang qori ketika melantunkan tilawah tidak ada yang berbeda, bahkan bacaannya cukup enak didengarkan. Shalat sama, Qur'an sama, Nabi Muhammad sebagai khatamul nabiyyin sama, Allah sebagai Tuhan semesta alam sama. Lalu apa yang membuat mereka masih di cap kafir, sesat dan menyesatkan?

Kembali ke definisi Ahmadiyah di kalangan masyarakat. Di kalangan masyarakat, Ahmadiyah terbagi dalam tiga versi. Ahmadiyah versi MUI, Ahmadiyah versi konstruksi media, dan Ahmadiyah menurut Ahmadi sendiri. Pada awalnya, Ahmadiyah dilegalkan oleh MUI tapi entah kenapa MUI langsung memfatwa sesat. Ahmadiyah yang dibentuk media juga sebagai aliran sesat, dan pemberitaan bahwa setiap daerah yang ada penganut Ahmadiyah-nya selalu konflik itu salah. dan Ahmadiyah menurut si Ahmadi sendiri..

Ahmadiyah hanya gerakan pembaharu dengan Mirza Ghulam Ahmad sebagai pemimpin atau khalifah. Sebagaimana sering diajarkan oleh guru agama di sekolah, jumlah nabi tidak hanya 25 tapi lebih dari itu dan tidak semua nabi mendapat wahyu kitab suci. Dalam hal ini, pengikut Ahmadiyah meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai salah satu-nya, sering disebutkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi bayangan dan tetap penutup dari segala  nabi dan rasul adalah Nabi Muhammad SAW..

Berikut beberapa dokumentasi yang berhasil diabadikan, memang ada benarnya tidak cukup rasanya dua-tiga jam berkunjung di sini. Insya Allah, coming soon untuk penelitian skripsi :-D












Komentar

  1. ndak ngajak menjelejah di dunia pondok pesantrennya euy..

    BalasHapus
    Balasan
    1. telat.. haha


      hayu om penelitian bareng :-D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKN, Katanya Kuliah Kerja Nyata

Yuhu posting 2017 pertama.. :D Lama ngga berbagi cerita, entah kenapa malam ini ane keinget pas jaman-jaman KKN 2 bulan yang lalu. Disini, ane bakal sedikit cerita suka duka selama KKN. BTW, KKN di beberapa kampus memang sudah menjadi kewajiban bagi tiap-tiap mahasiswa. Awal ane ikut KKN juga cuman sebagai persyaratan ikut sidang skripsi. Nah gini ceritanya. Kalau biasanya KKN dilakukan secara bersama-sama antar fakultas tetapi beda dengan yang ada di fakultas ane. Hanya khusus satu fakultas saja yang ikut KKN atau diartikan sebagai KKN Mandiri (: bukan nama bank ye). Ada plus minusnya, plusnya kita udah kenal satu sama lain, minusnya ya elu lagi elu lagi. Wkwaw.. :v Tetapi kenal akrab di kampus bukan jaminan bakal akrab juga di desa kita KKN. Nah lho? Baca dulu aja yee :D Nah tahun ini KKN dilaksanakan periode Januari – Februari 2017. Pesertanya mahasiswa 2 angkatan dari 3 jurusan di FIKOM (Jurnalistik, Perpustakaan, dan PR). Pas itu, ane sendiri lagi sibuk-sibuknya dengan ba...

Pengalaman Magang : Merasakan Jadi Wartawan Kriminal

Alhamdulillah, program magang berhasil dilalui. Banyak suka dan duka dilalui dengan memegang predikat sebagai 'reporter magang'. Ngaku reporter dari suatu media tapi tanpa tanda pengenal.. :v Saya sendiri magang di salah satu tv lokal di wilayah Cirebon. Kenapa memilih Cirebon? Alasan pertama, lebih deket dengan rumah. Jarak Cirebon - Losari jika dilalui dengan naik angkutan umum hanya memakan waktu satu jam. Kedua, saya fikir biaya hidup di Cirebon masih wajar dan normal dibawah rata-rata Bandung, ehh ternyata tidak.. :v Hari pertama magang bertepatan dengan awal puasa, 6 Juni 2016. Awalnya, kenapa memilih tv dibanding media cetak ya karena tidak mau jadi reporter lapangan, Haha.. Tapi nasib berkata lain, setelah basa-basi dan ngobrol sebentar dengan pemimpin redaksi, malah saya ditempatkan bener-bener untuk terjun ke lapangan ditambah beban yang saya pegang bagian rubrik hukum dan kriminal. Random banget.. :v Hari itu pula saya langsung ditugaskan mencari berita atau i...

Deskripsi Diri

Saya akan mendeskripsikan diri saya sendiri. Nama saya Riyanto Kasnuri, anak kedua dari empat bersaudara. Nama Riyanto Kasnuri mempunyai arti tersendiri, kata ‘Riyanto’ berasal dari Bahasa Jawa kuno yang artinya Keberuntungan, sedang kata Kasnuri menunjukan identitas nama bapak saya. Jadi, kalau secara singkat dan menurut pemahaman saya sendiri, nama Riyanto Kasnuri mempunyai arti pengharapan seorang bapak yang bernama Kasnuri supaya anak laki-laki pertamanya selalu mendapat Keberuntungan dari Sang Pencipta. Saya asli dari Jawa Tengah, tepatnya dari Brebes. Kota kecil penghasil telor asin dan bawang merah. Umur saya sekarang menginjak 19 tahun, kelahiran 1994. Mempunyai kaka perempuan, dan dua adik yakni laki-laki dan perempuan. Saya bersekolah di SDN Prapag Kidul 2 dari tahun 2000-2006, melanjutkan ke SMPN 3 Losari tahun 2006-2009, dan di SMK Muhammadiyah Bulakamba dari tahun 2009-2012. Serta, sekarang kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fa...