Hampir setiap hari selalu bertemu dengan pak ogah, hanya saja beberapa hari yang lalu agak emosi melihat tingkah pak ogah. biasanya saya selalu memberi 500 perak ketika melewati pertigaan atau putar arah cuma waktu itu sedang tidak ada receh jadi saya hanya mengangkat tangan tanda tak memberi. tapi pak ogah malah marah-marah.
Saya renungkan sejenak tentang aktifitas pak ogah di jakarta, dari pengamatan saya sehari-hari setiap saya hendak melewati pertigaan atau putar arah selalu antri hingga lima mobil untuk melewati pak ogah.
Kita hitung secara matematis, bila pak ogah dalam satu menit ada kendaraan yang lewat mencapai 4 kendaraan maka bisa didapat Rp. 2000 uang karena setiap kendaraan akan memberi Rp. 500. padahal itu adalah hitungan kasar, artinya dalam semenit mobil yang lewat bisa lebih dari itu dan apabila kendaraan besar/kontainer yang lewat biasanya akan memberi Rp. 1000 setiap melewati pak ogah.
Dalam satu jam pak ogah bisa mendapatkan uang hingga Rp. 120.000 (hasil perkalian Rp. 2000/menit x 60 menit). Kita hitung lagi secara kasar, apabila dalam sehari pak ogah berada ditengah jalan selama 6 jam, maka didapatkan hasil Rp. 720.000 perhari. kita tahu bahwa kadang pak ogah berada di lokasi itu lebih dari enam jam, bahkan ada yang hingga 24 jam bergantian dengan temannya, walaupun hujan deras mereka tetap ada ditempat dengan memakai jas hujan.
Perhari mendapatkan Rp. 720.000 adalah angka yang besar, maka apabila dikumpulkan dalam dompet selama satu bulan (Rp. 720.000 x 30) maka didapat hasil yang sungguh diluar dugaan karena mencapai Rp. 21.600.000. Angka yang sangat besar melebihi gaji pegawai negeri bahkan melebihi bisnisman. Padahal pak ogah bekerta tanpa modal, hanya mengandalkan keberanian.
Bisa dibayangkan bila ada pak ogah yang mempunyai daerah kekuasaan di pertigaan sebanyak 10 titik, maka bisa dipastikan pendapatan oknum tersebut akan mencapai lebih dari Rp. 210.000.000/bulan. Padahal itu semua adalah perkiraan kasar, artinya penghasilan yang sebenarnya bisa lebih dari itu.
Penghasilan sebesar itu sebenarnya bisa dijadikan masukan untuk pajak pemerintah, tapi bisa dipastikan akan sulit karena terbentur oleh birokrasi dan keamanan dan keselamatan di jalan raya.
Saya renungkan sejenak tentang aktifitas pak ogah di jakarta, dari pengamatan saya sehari-hari setiap saya hendak melewati pertigaan atau putar arah selalu antri hingga lima mobil untuk melewati pak ogah.
Kita hitung secara matematis, bila pak ogah dalam satu menit ada kendaraan yang lewat mencapai 4 kendaraan maka bisa didapat Rp. 2000 uang karena setiap kendaraan akan memberi Rp. 500. padahal itu adalah hitungan kasar, artinya dalam semenit mobil yang lewat bisa lebih dari itu dan apabila kendaraan besar/kontainer yang lewat biasanya akan memberi Rp. 1000 setiap melewati pak ogah.
Dalam satu jam pak ogah bisa mendapatkan uang hingga Rp. 120.000 (hasil perkalian Rp. 2000/menit x 60 menit). Kita hitung lagi secara kasar, apabila dalam sehari pak ogah berada ditengah jalan selama 6 jam, maka didapatkan hasil Rp. 720.000 perhari. kita tahu bahwa kadang pak ogah berada di lokasi itu lebih dari enam jam, bahkan ada yang hingga 24 jam bergantian dengan temannya, walaupun hujan deras mereka tetap ada ditempat dengan memakai jas hujan.
Perhari mendapatkan Rp. 720.000 adalah angka yang besar, maka apabila dikumpulkan dalam dompet selama satu bulan (Rp. 720.000 x 30) maka didapat hasil yang sungguh diluar dugaan karena mencapai Rp. 21.600.000. Angka yang sangat besar melebihi gaji pegawai negeri bahkan melebihi bisnisman. Padahal pak ogah bekerta tanpa modal, hanya mengandalkan keberanian.
Bisa dibayangkan bila ada pak ogah yang mempunyai daerah kekuasaan di pertigaan sebanyak 10 titik, maka bisa dipastikan pendapatan oknum tersebut akan mencapai lebih dari Rp. 210.000.000/bulan. Padahal itu semua adalah perkiraan kasar, artinya penghasilan yang sebenarnya bisa lebih dari itu.
Penghasilan sebesar itu sebenarnya bisa dijadikan masukan untuk pajak pemerintah, tapi bisa dipastikan akan sulit karena terbentur oleh birokrasi dan keamanan dan keselamatan di jalan raya.
Komentar
Posting Komentar